Minggu, 22 Januari 2017

KH Makhtum Hannan Meninggal saat Berzikir Usai Subuh Berjamaah

KH Makhtum Hannan Meninggal saat Berzikir Usai Subuh Berjamaah

Pimpinan Pondok Pesantren Masyariqul Anwar Babakan Ciwaringin Cirebon, KH Makhtum Hannan meninggal dunia, Sabtu (21/1) pagi sekitar pukul 06.35. Kabar duka tersebut membuat seluruh warga Nahdliyin se-Nusantara kehilangan sosok alim ulama ahli hikmah itu.

Sebab, sesepuh Pondok Pesantren di Babakan Ciwaringin itu salah satu ulama berpengaruh di Indonesia. Beliau masuk jajaran struktur tertinggi dalam organisasi PBNU dan merupakan 1 dari 9 ulama Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang diberikan mandat untuk memilih rois Syuriah PBNU saat Muktamar Jombang tahun 2015 lalu.

Ulama kharismatik yang hidup dengan penuh kesederhanaan itu meninggalkan 6 anak dan 11 cucu. Ke-6 anak tersebut Hj Idah Faridah, KH Rahmat Jauhari Mahktum, Muhamad Mar'i, Syuhada, Kholid, dan Muhammad Arsyad. Dari ke-6 anaknya itu, KH Rahmat Makhtum ditunjuk sebagai penerus pengasuh pondok pesantren.

"Semenjak ayahnya sering uzur (halangan, red), beberapa kegiatan pondok pesantren dan istighosah yang diadakan setiap malam jum'at digantikan oleh anak keduanya yakni KH Rahmat Jauhari Makhtum," ujar Anak bungsu almarhum, Muhammad Arsyad, kepada Radar Cirebon (Jawa Pos Group).

Menurut Arsyad, selain sudah sepuh, ayahnya punya riwayat sakit lambung. Bahkan, diusia ke 78 beliau sering dirawat di rumah sakit. Terakhir, beliau pulang dari rumah sakit Senin (16/1).

"Sebelum menghembuskan nafas terakhir, KH Makhtum Hannan mengucapkan takbir dan memegang erat tangan saya. Beliau meninggal usai salat subuh berjamaah dengan saya, kemudian rebahan dan mengucapkan zikir," tuturnya.

Dia mengaku, tidak ada firasat sama sekali ketika ayahnya akan meninggal. Namun, pesan yang selalu dingat semasa hidupnya adalah terus belajar dan istiqomah serta hidup dalam kesederhanaan. Arsyad menceritakan, semasa hidupnya nama KH Makhtum Hannan merupakan sosok yang sederhana mengikuti jejak baginda Nabi Muhammad SAW. "Kesederhanaan inilah yang membuatnya menjadi seorang ahli hikmah," tuturnya.

Menurutnya, nama KH Maktum Hannan kerap kali dicatut dalam persoalan politik. Tapi, beliau tidak marah. Bahkan, ajakan untuk bergabung dalam partai politik pun banyak. Namun, beliau menolak. "Dalam persoalan politik hanya sebatas pengetahuan saja," terangnya.

Arsyad mengungkapkan, almarhum merupakan sosok yang istiqomah dalam memberikan pembelajaran terhadap keluarga, santri dan masyarakat sekitar. Apalagi, selama 52 tahun rutin memimpin istighosah setiap malam jum'at di makam ayahnya KH Abdul Hannan.
Dalam kesempatan itu, dirinya meminta doa kepada para jamaah yang hadir agar KH Makhtum Hannan diterima disisi Allah SWT.

Sementara itu, putra kedua almarhum, KH Rahmat Jauhari Makhtum mengaku, sebagai pengganti pimpinan ponpes adalah dirinya sebagai anak laki�laki tertua dari 6 bersaudara. "Anak pertama itukan perempuan," ucapnya.

Dia mengatakan, kiprah KH Makhtum semasa hidup selalu memberikan manfaat kepada masyarakat. Bahkan, beliau disebut-sebut sebagai pemersatu umat. Kemudian, dalam kesempatan lain almarhum menjadi mustasyar di PBNU. "Almarhum merupakan kiyai sepuh yang masuk dalam susunan struktur PBNU di Jawa Barat," imbuhnya.

Dia menyampaikan, disamping mengajar santri putra-putri, setiap hari selama 12 jam KH Makhtum Hannan sibuk melayani tamu dari semua lapisan masyarakat yang datang dengan pelbagai macam keperluan dan kepentingan, mulai dari pejabat, pengusaha, pedagang, petani, pengurus organisasi, mahasiswa, bahkan tamu-tamu dari luar negeri.

Mereka umumnya meminta nasihat, masukan, dan doa agar segala tujuan dan kepentingannya tercapai. "Melalui pendekatan hikmah, KH Makhtum banyak memberikan pendampingan kepada pengusaha, pedagang, petani dan nelayan. Banyak dari mereka yang sukses dan berhasil," tandasnya.

Dikatakannya, pesan yang terngiang didalam benaknya sebelum wafat adalah, titip jama'ah dan pesantren. Hal senada disampaikan keponakan almarhum KH Maktum Hannan, Arwani Saerozi. Dia mengatakan, banyak hal yang telah diberikan untuk masyarakat kabupaten cirebon dan sekitarnya. Sumbangsih pemikiran dan ilmu pengetahuan yang dimiliki semuanya ditransformasikan kepada keluarga, santri dan masyarakat.

Bahkan, di 1963 KH Makhtum Hannan bersama pengasuh Pesantren Babakan Ciwaringin lainnya mendirikan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model. KH Makhtum mendirikan Jamiyyah Hadiyu dan Istighatsah. Cabang-cabangnya tersebar di seluruh wilayah tiga yang meliputi, Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu.

Arwani menambahkan, KH Makhtum Hannan dilahirkan di Cirebon, 13 Juni 1938 dari pasangan KH Abdul Hannan dan Nyai Solihah. KH. Abdul Hannan adalah putra Kiai Toyyib bin Kiai Masina bin Kiai Juman bin Kiai Mansur bin Kiai Abbas bin Kiai Subki bin bin Kiai Kamali bin Kiai Abdurrahim bin Syeikh Abdul Latif bin Mas Buyut bin Sunan Ratna Geulis/Kikis bin Sunan Raja Desa bin Sunan Bahuki bin Khatib Arya Agung bin Dalem Suka Hurang bin Sayid Maulana Faqih Ibrahim bin Syaikh Abdul Muhyi Sunan Giri bin Maulana Ishaq.

KH Makhtum belajar ilmu agama pada ayahnya, KH. Abdul Hannan, pamannya, KH. Masduki Ali dan juga kakanya KH. Amrin Hannan. Selain itu, ia pernah belajar di Pondok Pesantren Kaliwungu pada Kiai Abu Khaer Pasarean, Kiai Subki, dan Ust. Fadhil. Juga mesantren di Pondok Pesantren Lasem di bawah asuhan Syeikh Masduki dan Syeikh Mansur bin Khalil.

Sepulang mesantren KH. Makhtum Hannan meneruskan pondok pesantren ayahnya di Babakan Ciwaringin Cirebon. Tahun 1960 bersama kiai-kiai lain mendirikan Madrasah al-Hikamus Salafiyyah (MHS) tingkat, Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah, Aliyyah, dan Ma'had Ali. ( JP )

Previous
Next Post »