Minggu, 23 Oktober 2016

Tuhan, Bila Cinta Ini Memang Tak Bisa Kau Satukan, Mengapa Perasaan Ini Masih Kau Biarkan Bersemayam?

Lagi dan lagi, izinkan saya untuk mengadu kepadamu, Tuhan. Hanya kepadamu saya bisa mengadu tanpa perlu malu atau takut dicerca. Hanya kepadamu, saya bisa mencurahkan segala kegelisahan hati yang semakin menggigit ini. Saya tidak tahu solusinya, dan sebagai pencipta segalanya, saya yakin Tuhan punya solusinya. 

Tuhanku, betapa rumitnya sebuah rasa yang bernama cinta. Ataukah sebenarnya kami saja, sebagai manusia, yang piawai merumitkan segalanya? Mengenai cinta, begitu banyak hal yang tidak saya pahami, ya Tuhan. Kegelisahan ini sudah menghantui saya sejak lama. Kegelisahan yang membuat saya merasa tak nyaman untuk melangkah, sebab apa yang tertinggal di belakang senantiasa mengikuti jejak saya. Oh Tuhan, bila memang saya dan dia tidak bisa bersama, mengapa begitu sulitnya untuk saya merelakan semua?

Sudah sekian lama, sudah banyak pelipur lara yang saya punya – tapi mengapa rasa ini tak pergi juga?
Jika saya hitung-hitung, rasa ini sudah mengendap bertahun-tahun. Masih saya ingat jelas kenangan-kenangan indah yang dulu saya lewati bersamanya. Sekarang, semuanya hanya tinggal kenangan. Dia sudah menyusuri jalan yang berbeda, dan barangkali, sudah menemukan orang yang berbeda. Tapi Tuhan, kata orang waktu akan menyembuhkan. Tapi mengapa, setelah sekian lama ini, perasaan saya masih sama?
Saya mengerti bahwa mustahil untuk bersama. Seharusnya, saya sudah melangkah maju dan membuka lembaran yang baru.
Saya tahu bahwa segalanya kini telah berbeda. Apa yang saya kenang-kenang adalah bagian dari pikiran tentang masa lalu yang tak mungkin terulang. Saya juga tidak sedang menipu diri sendiri, segalanya hanya mimpi, dan saat ini dia masih berada di sisi saya. Bahwa kami masih menjalin cinta dengan sejuta bahagia. Saya tahu segalanya sudah berakhir. Saya juga tahu, bahwa saat ini, sama seperti dirinya, saya seharusnya juga mulai beranjak membuka lembaran baru.
Tapi Tuhan, mengapa menerima keadaan sebegini sulitnya?
Tapi Tuhan, kini saya mengerti. Bagian terberat dari mencintai seseorang adalah melupakan dia yang pernah ada di sisi.
Berkali-kali saya sempat membaca sebuah pendatan. Bahwa kita hanya membutuhkan waktu dua menit untuk jatuh cinta, tapi barangkali kita membutuhkan waktu seumur hidup untuk melupakannya. Hingga saat ini saya mengalaminya sendiri, saya tak pernah percaya. Saya pikir, jika saya sudah menerima kenyataan bahwa kami sudah berpisah, lantas logika saya akan membuat saya otomatis melupakan dirinya. Tapi Tuhan, kini saya benar-benar paham, bahwa bagian paling sulit dari mencintai seseorang adalah melupakannya.
Tuhan, mengapa logika dan hati manusia sering tak sejalan?
Percuma saya mengatakan pada dunia bahwa rasa itu sudah hilang. Tapi sejauh apapun saya ingkar, toh namanya yang masih bertahta dalam ingatan.
Saat orang-orang di sekitar saya bertanya, saya akan menjawab dengan senyuman lebar dan kalimat aku baik-baik saja. Saya bisa saja mendeklarasikan kepada dunia bahwa yang telah lalu biarkanlah berlalu. Saya bisa saja mengutip-ngutip quote entah siapa yang mengisyaratkan bahwa melupakan bukan hal yang mustahil. Saya juga bisa saja menyanyikan lagu-lagu tentang membuka lembaran baru untuk meyakinkan mereka bahwa saya sudah lama melupakan dia.
Bahkan, saya juga bisa berpura-pura membuka hati untuk orang lain dan hubungan lain untuk menunjukkan padanya bahwa bukan hanya dia yang bisa membuka lembaran baru. Tapi bagaimana ini, Tuhan? Sejauh apapun saya ingkar, perasaan ini tak bisa dikelabuhi. Hingga saat ini, dia masih satu-satunya orang yang saya inginkan.
Katanya, melihat orang yang dicintai bahagia juga akan membuat kita bahagia. Mungkin benar, tapi dibalik bahagia itu kesedihan tetap ada.
Lagu-lagu romantis yang sering saya dengarkan di radio dan music player itu memberitahu saya bahwa cinta tak harus memiliki. Bahwa kebahagiaan terbesar orang mencintai adalah saat melihat orang yang dicintainya berbahagia. Sungguh, saya bahagia melihatnya tertawa. Senyumnya, entah bagaimana memberikan efek tenang dalam diri saya, membuat saya berpikir dia baik-baik saja.
Tak ada yang tahu bagaimana saya lega setiap kali melihatnya baik-baik saja. Tapi saya juga tidak akan berbohong lagi. Saya bahagia jika dia memang sudah memiliki orang lain yang bisa membuatnya tertawa, tapi rasa sakit itu juga tetap ada. Rasa pedih di hati saya memang tak pernah terlihat oleh dunia. Tapi apakah mencintai seseorang harus sebegini sakitnya?
Bukan saya ingin atau sengaja menyiksa diri. Tapi Tuhan, bagaimana caranya mengendalikan rasa yang begitu kuat ini?
Sekali lagi, saya bukannya sedang menipu diri sendiri. Apalagi menyiksa diri sendiri. Jika Engkau bertanya, apa yang saya inginkan, pastinya saya ingin melupakannya, Tuhan. Saya sudah lelah dengan segala pengharapan dan rindu yang tak ada obatnya ini. Saya juga bukannya tidak pernah berusaha. Sudah jauh kaki ini melangkah, menemui orang-orang baru, dan mencoba membuka lembaran-lembaran baru. Tapi tetap saja, kenangan itu selalu berpulang kepadanya.
Saya tahu saya tidak boleh menghidupi kenangan. Saya tahu bahwa kenangan harus tetap menjadi kenangan, tidak boleh diubah menjadi harapan. Sungguh, saya ingin melupakannya. Tapi rasa ini tumbuh seperti sel kanker yang tak bisa saya kendalikan. Tuhanku, mohon ajari saya cara untuk melupakan.
Mengapa hati manusia tak bisa terprogram seperti komputer, yang bisa dengan mudah menghapus semua kenangan dengan satu kali memencet tombol saja?
Saat menulis ini, saya sedang menghadap layar computer. Terkadang terbersit pertanyaan dalam benak saya. Mengapa manusia sedemikian rumitnya, Tuhan? Mengapa perkara hati selalu menjadi hal yang tak bisa saya pecahkan? Mengapa hati dan logika seringkali tak bisa sejalan? Mengapa otak manusia tidak didesain seperti komputer saja? Di komputer, saya bisa memilih dan memilah data mana yang saya butuhkan dan mana yang harus saya buang. Hanya dengan menekan ctrl+del saya bisa menghapus memori-memori tak bermanfaat yang memberatkan komputer saya. Mengapa pikiran saya tak bisa demikian?
Maafkan saya yang terburu-buru menyampaikan semua ini. Barangkali terkesan ada kemarahan dalam curahan hati saya, tapi sungguh itu semata-mata ungkapan kegelisahan yang selama ini memberati hidup saya. Di akhir keluh kesah ini, saya tahu bahwa mencintainya adalah hal yang sia-sia.
Mencintainya hanya akan membuat saya tenggelam dalam kesedihan yang tak akan membawa saya ke mana-mana. Tapi Tuhan, salahkah saya bila masih memelihara rasa yang seharusnya sudah tak ada?
Sebab, barangkali sebagai manusia saya begitu lemahnya, sehingga tak bisa mengendalikan rasa. Karena itulah di sini saya mengadu. Saya bertanya. Dan saya memohon petunjukmu. Sebab hanya Engkau yang tahu ada apa di masa depan, Tuhan. Hingga saat ini, mohon maafkan saya jika berulang-ulang bertanya: jika memang kamu tak bisa Kau satukan, mengapa rasa ini masih Engkau biarkan bersemayam?

hipwee.com

Previous
Next Post »