Minggu, 23 Oktober 2016

Menunggu Untuk Kau Jadikan Pasangan Halal Akan Kutunggu dengan Sabar. Tapi, Beri Kepastian Sampai Kapan

Atas keseriusan yang telah kamu ungkapkan padaku jauh-jauh hari sebelumnya, terima kasih atas memberikan jawaban yang telah kunanti sejak lama. Akhirnya, salah satu permohonan yang kupanjatkan sejak lama telah mendapati pada akhir yang menuju pada membahagiakan. Bolehkah aku bertanya, sampai kapan aku harus perlu menunggu hingga “kita” benar-benar bisa saling menggenapkan dan berdiri di atas pelaminan dengan bahagianya  bersamamu?


Menjalani hari denganmu rela kulakukan tanpa lelah. Saat kau masih memintaku untuk menunggu, tak perlu alasan bagiku untuk menolak.
“Ku harap kamu bisa sedikit bersabar ya. Aku perlu waktu untuk menyiapkan diri dari banyak segi,”
“Tunggu ya. Toh, kita akan benar-benar genap pada akhirnya,”
Dua kalimat yang terdiri dari 24 kata yang kau ucap pada saat itu benar-benar bisa membuatku hatiku tenang. Menanyakan perihal lamar-melamar dan masa depan kita kelak bukanlah perbincangan yang menjadi prioritas pada saat itu. Paling tidak, ucapanmu itu bisa menjadi pegangan bagiku untuk menguatkan diri untuk menunggu dan bersabar.
Meragukan ketangguhanku adalah kesalahan besar. Menjalani hari bersamamu tidak bisa dibilang selalu mudah. Namun aku mampu untuk terus bertahan tanpa lelah. Mendengar kata-katamu benar-benar mengandung mantra ajaib, aku yang biasanya selalu mencari celah untuk menyela, tak memiliki alasan untuk membuatmu tergesa-gesa.
Menggenapkan dari aku dan kamu menjadi kita tak akan berhasil dalam proses satu malam. Terima kasih sudah mendekatkan diri pada Ayah dan Ibu di sana.
Membuat Ayahku tersenyum adalah salah satu tantangan terberat yang dirasa teman lelakiku sebelumnya saat sekadar bertandang duduk di teras rumah. Tak hanya itu, memberikan jawaban yang bisa memuaskan keingintahuan dari Ibuku yang menanyakan, tentang dirimu, keluargamu, dan visi ke depanmu–tak ada yang bisa sukses melewati. Menghadapi kejutekan saudaraku dalam berperilaku pun tak bisa dihadapi oleh sembarangan orang.
Seketika, rasa ragu yang sempat meradang di ujung pintu hati sirna ketika kamu mampu membuat orang-orang yang berarti di hidupku bisa menerima kehadiranmu. Terima kasih telah mampu berbaur menjadi bagian dari mereka, telah berhasil menggenapkan definisi kita yang tak hanya terdiri dari kamu dan aku. Keyakinan untuk bisa bersanding denganmu secara nyata sudah tak sabar untuk kuwujudkan.
Aku tahu, telingamu sudah bosan setiap mendengar aku melontar kata “Kapan?“. Berkilah adalah yang kamu lakukan setelahnya.
“Kapan keluarga kita bisa bertemu dan mengobrol tentang pernikahan?”
Tak hanya satu dua kali aku melontarkan pertanyaan yang mungkin sudah membuat telingamu bosan mengenai kepastian waktu yang pernah kamu janjikan dulu. Jawaban yang kau berikan, justru ragam obrolan yang keluar dari yang kutanyakan. Ya, kamu lebih banyak berkilah sekarang.
Sayang, jangan buru-buru menebalkan telingamu dan menjadikan pertanyaan “kapan ke pelaminan” ini tak terjawab. Ada satu alasan yang membuatku tak pernah bosan bertanya di setiap kesempatan kita bertemu. Adalah dari keseriusan yang telah kamu tunjukkan selama ini. Karena menyia-nyiakanmu adalah salah satu dosa besar yang akan kuselali seumur hidup, aku takut telah mengingkari takdir dari Tuhan.

Aku paham mempersiapkan segala hal adalah yang sedang kamu lakukan. Tapi, sampai kapan aku harus berteman dengan ketidakpastian?
“Sebentar ya sayang. Aku butuh waktu.”
Itulah jawaban yang aku dapat setelah mengumpulkan satu pertanyaan sama setiap waktu. Maaf, tapi itu tak bisa menjawab seluruh keingintahuan, kekhawatiran, dan pengharapan yang sudah tertahan di bibir selama ini. Kelegaan hati pun masih belum bisa dirasa. Seandainya saja kamu bilang… “Tahun depan, 2 tahun lagi” pun tak apa. Paling tidak, aku tahu sampai kapan penantian ini akan berujung.
Tak ada yang salah dengan niat baikmu untuk memperbaiki diri dari segala aspek. Pun, aku melakukan hal yang sama, agar menjadi wanita yang benar-benar pantas saat bersanding denganmu nantinya.

Izinkan aku menanyakan satu hal padamu, Sayang. Sampai kapan kamu terus-menerus memintaku untuk menunggu “sebentar ya Sayang“-mu yang tak memiliki keterangan waktu ini? Apakah tak ada keinginan untuk memberi sedikit saja kejelasan tentang penantian ini?
Tak selamanya menunggu tanpa tenggat waktu yang pasti itu menyenangkan. Kutunggu jawaban terbaikmu yang harus kamu segerakan.
Mendengar kata “sabar ya” darimu saat itu memang bisa menjadi penenang mujarab. Kini, jawaban semacam ini sudah tak bisa kujadikan pijakan untuk melegakan hati saat mendengar alasan-alasan absurdmu.
Kesabaran akan tiba pada titik terjauhnya. Kemarin atau kemarin lusa, mungkin aku masih bisa maklum untuk menunggu kepastian yang tak benar-benar pasti darimu. Mungkin pengandaian ini tak begitu tepat. Seperti makanan berkemasan yang memiliki masa berlaku, penantian ini pun akan memasuki tenggat waktunya.
Jika saja kamu bisa memberikan keterangan waktu yang pasti, aku tak pernah bertanya tentang kapan kita bisa berbahagia dan disahkan di depan keluarga dan penghulu.
Akan kutunggu kamu dan jawaban terbaikmu, yang aku harap bisa memberikan keterangan waktu yang pasti. Semoga, kamu bisa menjawabnya dengan segera, ya.
hipwee.com

Previous
Next Post »