Minggu, 06 Desember 2015

Go-Jek di Balikpapan, Penghasilan Melejit, Antar Belanjaan Pun Oke


Sudah sekitar satu bulan warga Kota Minyak melihat pengendara sepeda motor yang memakai jaket berwarna hijau dengan tulisan Gojek di punggungnya. Memang apa bedanya dengan ojek pangkalan?

PADA Senin (30/11) lalu, Kaltim Post mencoba menggunakan salah satu layanan Gojek, yaitu Go-Ride. Untuk mencoba layanan ini, kita terlebih dahulu harus install aplikasinya di smartphone.

Sekitar pukul 12.00 Wita, media ini mencoba layanan Gojek via smartphone dan memilih fitur Go-Ride. Posisi Kaltim Post saat itu berada di daerah Jalan Ahmad Yani. Sangat sederhana, karena sudah ada berbagai petunjuk untuk user. Tracking untuk tujuan pun sudah kita tentukan melalui aplikasi ini. Tarifnya pun langsung keluar. Tujuan saya adalah ke Jalan Marsma Iswahyudi, tarifnya sekitar Rp 25 ribu.

Setelah melakukan order, tidak sampai satu menit saya langsung ditelepon oleh rider Gojek yang menerima orderan saya. Kurang lebih selama 10 menit rider Gojek sudah sampai untuk menjemput saya di lokasi.

Rider Gojek yang menjemput saya bernama Roys Hariyanto. Dengan sangat ramah dia memberikan helm dan masker kepada saya. Ya, memberikan masker kepada penumpang adalah salah satu peraturan yang diberlakukan oleh Gojek untuk para rider-nya.

Selama perjalanan menuju tujuan yang telah saya pilih, pria yang akrab disapa Roys ini menceritakan pengalamannya menjadi rider Gojek. Dia mengaku sudah satu bulan sejak Gojek diinfokan akan ada di Balikpapan. Dia mencari tahu itu dan melamar untuk menjadi rider Gojek. “Ya, awalnya saya mengetahui info ada Gojek di Balikpapan dari teman saya. Kebetulan profesi saya sebelumnya adalah tukang ojek di pangkalan,” ucapnya.

Dia menjadi tukang ojek kurang lebih sudah 20 tahun. Menurutnya, menjadi Gojek lebih menguntungkan daripada menjadi tukang ojek pangkalan. Bahkan, selama 20 tahun dia mengojek, baru saat menjadi Gojek dia mendapatkan kenyamanan dalam bekerja.

Dia menilai keuntungan menjadi Gojek lebih banyak ketimbang ojek pangkalan. Saat menjadi ojek pangkalan, biasa susah sekali mencari penumpang karena menunggu di pangkalan terkadang harus berebut penumpang.

“Semenjak jadi rider Gojek, saya sangat mudah mencari penumpang. Kita tinggal menunggu orderan muncul di ponsel lalu kita tinggal memencet ok kalau kita duluan yang menekan tombol ok, maka orederan tersebut diberikan kepada kita,” terangnya.

Tidak hanya mudah mencari penumpang, dia mengatakan, layanan Gojek tidak hanya saja mengantar penumpang tapi juga bisa mengantar makanan dan belanjaan. “Di aplikasi Gojek, selain Go-Ride untuk penumpang tapi bisa memakai layanan Go-Mart atau Go-Food. Kedua layanan ini memakai jasa kami untuk membeli makanan dan minuman serta belanja kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.

Mereka pun bisa memilih di mana tempat makan atau tempat perbelanjaan yang mereka pesan. Lanjutnya, untuk segi penghasilan pun lebih banyak dari pada ojek pangkalan.

Dijelaskannya, dari tarif yang sudah dipesan oleh si pemesan, pihak Gojek akan mengambil 20 persen dan sisanya adalah deposito. Sistem gaji, dia katakan sesuai dengan deposito yang kami miliki. “Jadi kalau kita rajin menerima orderan tentu kita mendapat gaji yang cukup banyak,” tambahnya.

“Saya baru satu bulan menjadi rider Gojek ini, tapi penghasilan saya sudah melebihi dari penghasilan saya menjadi ojek pangkalan. Bahkan anak saya yang juga menjadi Gojek dalam waktu lima hari saja sudah mendapatkan deposito sebesar Rp 1,5 juta,” bebernya.

Dia juga menceritakan anaknya yang mengikuti jejaknya menjadi rider Gojek. Awalnya anaknya tidak tertarik menjadi Gojek karena dia juga sudah bekerja di salah satu restoran di Balikpapan. Tapi karena dia melihat cukup menguntungkan menjadi rider Gojek dia akhirnya melamar menjadi rider Gojek juga. “Untungnya dia bekerja pada malam hari. Jadi, siang harinya dia bisa menyambi Gojek,” kata pria ramah ini.

“Saya sangat suka menjadi Gojek ketimbang ojek pangkalan karena kami juga mendapatkan bonus yang menarik. Pihak Gojek kerap kali memberikan bonus. Sistemnya untuk Go-Ride kalau kita mendapatkan lima penumpang maka kita akan otomatis mendapat Rp 50 ribu. Untuk Go-Mart atau Go-Food tiap mendapat tiga orderan maka kita mendapat bonus Rp 50 ribu dalam satu hari. Hal ini tentu membuat kami semangat,” paparnya.




Lanjut dia, keuntungan lainnya kita bisa stand by menunggu orderan di mana aja tidak harus dipangkalan seperti ojek pangkalan. Dia menceritakan pengalamannya dulu saat menjadi ojek pangkalan ketika berkeliling banyak orang yang tidak mengenali kalau dia padahal tukang ojek. Kalau Gojek kita hanya menunggu orderan saja.

Setiap rider Gojek harus memiliki smartphone, dia pun awalnya kesulitan untuk menggunakan smartphone tersebut. Pihak Gojek memberikan smartphone kepada rider dengan cicilan sekitar Rp 25 ribu per harinya.

“Saya ini orang sudah berumur, awalnya sempat bingung saya bagaimana menggunakan smartphone itu. Tapi untung anak saya mengerti dan akhirnya dia mengajari saya bagaimana menggunakan sistem Gojek dan smartphone,” ucap pria yang berumur sekitar 50 tahun ini.

Lantas bagaimana respons teman-teman ojek pangkalan? Menurutnya, kalau di Jakarta banyak yang pro dan kontra. Kalau di Balikpapan semua pro. Malah semua teman saya beralih menjadi Gojek. “Kita awalnya bisa dikatakan freelance tapi kalau ikut Gojek ini kita seperti karyawan yang bekerja di perusahaan,” kata Roys.

Tapi, walau begitu dia mengaku beberapa teman ojek pangkalannya yang sudah berumur tidak melamar Gojek karena keterbatasan pemahaman dia tentang teknologi. Mereka tidak mengerti mengoperasionalkan smartphone. Syarat menjadi rider adalah paham teknologi smartphone karena kita bekerja harus memaksimalkan smartphone.

Kurang lebih, sekitar 20 menit perjalanan akhirnya saya sampai tempat tujuan. Dan saya membayar cash kepada rider Gojek tersebut. Dia pun meminta saya untuk melakukan rate untuk penilaian jasa yang dia lakukan. Rate tersebut juga bisa menjadi bonus yang dia dapatkan.
--Kaltim post--

Previous
Next Post »