Senin, 20 Juli 2015

Waspada! Sistosomiasis, Penyakit Cacingan yang Bisa Merenggut Nyawa

Schistosomiasis (baca: Sistosomiasis) merupakan salah satu penyakit cacingan yang ditakuti sebab telah merenggut banyak nyawa.

Bahkan di Indonesia sendiri sering terjadi wabah sistosomiasis di beberapa daerah.

Tidak jarang juga penyakit ini diperantarai oleh hewan jenis keong. Jumlah yang tewas juga tidak terbilang sedikit.

APA ITU SISTOSOMIASIS?
Dlansir tanyadok.com , penyakit ini adalah penyakit parasit (cacing) yang hidup dalam pembuluh darah vena.

Nama lain penyakit ini adalah Biliharzia yang diambil dari nama ahli patologi Theodore Maximillian Biliharz (1825 – 1862).

Ada 5 spesies sistosoma atau cacing penyebab sistomiasis ini, yaitu sistosoma mansoni, sistosoma hematobium, sistosoma japonicum, sistosoma mekongi, dan sistosoma intercalatum.


Sementara itu di Indonesia, spesies sistosoma yang ditemukan adalah sistosoma japonicum.

Siapa saja bisa terkena penyakit ini baik pria maupun wanita.

Begitu juga dengan umur. Baik anak-anak maupun orang dewasa memiliki peluang yang sama terpapar penyakit sistosomiasis.

Sistosomiasis ini merupakan salah satu penyebab utama kematian di Afrika, Amerika Selatan, Timor Tengah dan Asia.

APA SAJA YANG MENJADI TANDA DAN GEJALA SISTOSOMIASIS?
Gejala yang paling sering dialami penderita sistosomiasis adalah demam, urtikaria (semacam reaksi alergi yang menimbulkan bilur-bilur warna kemerahan), mual, muntah dan sakit perut. Kadang-kadang dijumpai sindrom disentri.

Gejala-gejala lain yang juga dapat ditemukan antara lain: hepatosplenomegali (pembesaran limpa dan hati) hematuria (adanya darah pada urin) sindrom myelitislike gangguan saluran genital wanita purpura (perdarahan kecil dalam kulit) Satu hal lain yang perlu diketahui adalah gejala sistosomiasis setiap spesiesnya berbeda-beda.

Salah satu terapi yang cocok untuk sistosomiasis adalah praziquantel. Obat ini mampu mengobati sistosomiasis akibat spesies S.hematobium, S.mansoni, dan S.japonicum.


Obat lainnya yang juga cukup sering digunakan adalah Oxamniquine, Artemisin, dan Metrifonate.

Namun obat-obat ini jarang dipakai untuk sistosomiasis akibat spesies S.japonicum.

Terapi pembedahan juga kadang bisa dijadikan pilihan untuk mengeluarkan polip atau sumbatan saluran kemih.

Komplikasi yang sering terjadi dari penyakit ini antara lain: splenomegali (pembesaran limpa) malnutrisi (gizi buruk) varises esofagii (pembesaran pembuluh vena di esofagus) hipertensi portal (peningkatan tekanan aliran darah portal diatas 10-12 mmHg) hipertensi pulmonal, gangguan fungsi hati gangguan usus besar gagal ginjal kronik kanker buli-buli, mielitis tranversa, epilepsi atau neuritis optika akibat dari penimbunan telur-telur sistoma.

APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH SISTOSOMIASIS?
Untuk mencegah penyakit ini tidaklah sulit.

Hanya butuh niat untuk melakukannya saja. Misalnya, tidak berenang di air tawar dimana sering terjadi sistosomiasis.

Lalu usaha lain adalah meminum air yang bersih yang terbebas dari parasit.
Biasakan minum air yang sudah dimasak dengan baik.

Bagi masyarakat yang tinggal di daerah pinggiran ada baiknya untuk mewaspadai diri dari keong-keong yang kemungkinan merupakan perantara penyakit ini.

Bahkan lebih baik jika keong-keong air dimana sering terjadi sistosomiasis segera diberantas. (*)

Previous
Next Post »