Sabtu, 11 April 2015

Wow! Modifikasi Radio Jadul, Lulusan ITB Ini Raup Omzet Miliaran

kotabontang.net - Banyak cara yang dilakukan para pengusaha untuk membuat barang yang diproduksinya menjadi barang yang bernilai tinggi, baik dari aspek seni maupun dari segi nilai jual.

Demi menarik minat masyarakat, para pengusaha banyak yang membuat ide-ide baru dengan sekreatif mungkin. Salah satunya, yang dilakukan oleh Abdul Sobur, Direktur PT Kriya Nusantara.

Kriya Nusantara adalah sebuah perusahaan yang membuat kerajinan-kerajinan tangan kelas premium, yang turut serta dalam acara pameran Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2015, di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.

Berbincang dengan VIVA.co.id baru-baru ini, Sobur, mengatakan yang membedakan produk kerajinan tangan dengan produk kerajinan lainnya, yaitu dengan keeklusifannya mengormentasi produk modern dan tradisional, yakni memproduksi dengan menggabungkan teknologi masa kini dengan pekerjaan tangan yang presisi dan berkualitas tinggi.

Salah satu produk kerajinan yang ditampilkan dalam Pameran Inacraft ke 17 kalinya ini, yakni radio antik berbentuk kotak dengan retro design bernama Radio Cawang.

Produk ini juga sudah bekerja sama dengan PT Panasonic Gobel Indonesia pada 2009 lalu.

Menurut pria lulusan Seni Rupa ITB ini, Radio Cawang dinamai demikian, karena mulanya radio ini diproduksi di sebuah pabrik di Kawasan Cawang, Jakarta Selatan.

"Radio itu ibarat musik klasik yang tidak akan lekang termakan waktu. Jadi, tinggal kami mengemasnya saja untuk menjadi lebih menarik," kata dia.

Dilihat dari penampilannya, radio Ini berbentuk klasik seperti radio di zaman kemerdekaan RI, hanya berbentuk kotak saja.

Namun, saat ini, radio klasik tersebut sudah banyak diberikan hiasan-hiasan yang menarik, seperti balutan motif batik yang ditulis tangan, atau pun balutan-balutan kaligrafi.

Pada umumnya radio, Radio Cawang merupakan radio yang menggunakan transistor untuk memancarkan gelombang frekuency modulation (FM), amplitude modulation (AM), short wafe (SW), dan medium wave (MW).

"Dari situ, kami desain ulang bodinya, agar lebih artistik dengan motif-motif tertentu," ujarnya

Sobur menambahkan, dia awalnya sempat kesulitan memasarkan barangnya, karena barang-barang yang diproduksinya tergolong beda sendiri. Untuk itu, peralatan yang dibuatnya tidak bisa begitu saja dibeli di pasaran.

Namun, untuk menemukan teknologi dan dengan desain yang tepat, diakuinya memakan waktu yang cukup lama.

"Banyak eksperimen, coba-coba mengombinasikan yang tepat bagaimana. Karena saya dulu belajar seni, jadi saya buat dulu rancangannya, lalu baru dipikirkan bagaimana mewujudkan dan membuat alat dari rancangan itu," katanya.

Tak hanya di situ, hambatan dari seorang pengusaha diujinya ketika krisis ekonomi pada tahun 1997-1998 silam, saat krisis moneter melanda Tanar Air.

Akibatnya, Sobur ketika itu tak mampu membeli logam dan kayu sebagai bahan baku utamanya.

Sempat menutup gerainya yang berada di Jakarta, dia pun memutar otak untuk usahanya bisa terus berjalan, mencari solusi yang terbaik untuk kelangsungan bisinisnya.

Salah satunya, mengurangi bahan baku logam dengan menaikan pembelian kayu. "Dengan begitu, ongkos produksi menjadi lebih murah, karena kandungan lokalnya lebih banyak," kata Sobur.

Dengan begitu, usahannya kembali melejit, tak hanya di dalam negeri, produknya juga saat ini lalu lalang di negara-negara Timur Tengah, begitu pun di negara-negara Eropa.

Pemasaran ini diperkuat dengan disesuaikannya corak yang menjadi kawasan-kawasan penjualannya. Radio Cawang dijual seharga US$120 hingga US$350 per unit. Menurutnya, harga jual bedasarkan tingkat kerumitan desainnya.

"Kami bisa banding kenapa harganya lebih mahal, seni ada di dalamnya, meskipun seni tak tenilai berapapun," ujarnya.

Selain Radio Cawang, perusahaan ini juga akan memanfaatkan perangkat-perangkat elektronik lainnya, seperti televisi LCD, dan kipas.

Selain itu, ada produk-produk lainnya seperti musix box, tempat kartu nama, dan kotak wadah Al-quran.

Saat ini, produksi Radio Cawang berada di pabrik pusatnya di daerah Cibiru Hilir, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, serta galeri dan pemasarannya berada di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Bagi Sobur, usaha yang dikembangkannya sebagai strategi dagang untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat, terutama saat menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN (MEA).

Saat ini, Sobur kini memiliki 100 orang lebih pegawai dengan omzet mencapai miliaran rupiah.

Previous
Next Post »