Jumat, 03 April 2015

Surat Terbuka Kepada Presiden dari Pendukung Jokowi yang Kecewa

kotabontang.net - Kebijakan Presiden Jokowi yang cukup liberal dengan menyerahkan mekanisme harga bahan bakar minyak (BBM) ke pasar dan menaikkan harga barang-barang rumah tangga dikeluhkan masyarakat. Apalagi, kenaikan harga barang hampir terjadi berbarengan dalam tempo singkat.

Contohnya, harga sembako, elpiji, tarif listrik, kereta api, angkutan umum, semua naik dalam waktu singkat. Dampaknya, sejak Jokowi naik tahta, masyarakat belum mendapat manfaat apapun, meskipun sang presiden berjanji akan membangun infrastruktur secara besar-besaran.
Menyikapi keadaan itu, salah satu pendukung Jokowi semasa kampanye Pilpres 2014, merasa kecewa. Orang itu adalah Fahd Pahdepie yang kini menempuh pendidikan di Monash University. Dia pun akhirnya menulis surat terbuka untuk Jokowi melalui akun Facebook miliknya. Berikut tulisannya:
SURAT UNTUK PRESIDEN JOKOWI

Pak Presiden Jokowi yang baik hati,

Tentang kenaikan harga bahan bakar minyak, kami mungkin tidak pandai berhitung: Bagaimana sebenarnya harga minyak ditentukan? Bagaimana neraca perekonomian nasional diperlakukan? Atau pertimbangan apa yang dipakai sehingga satu-satunya pilihan untuk ‘menyelamatkan seluruh bangsa dan negara’ harus sama dan sebangun dengan menaikkan harga-harga?
Bagi kami, angka-angka selalu terdengar sebagai ilusi belaka, Pak. Setiap hari kami mendengar satuan ‘miliar’ atau ‘triliun’ disebutkan dalam berita-berita, tanpa pernah benar-benar melihatnya dalam bentuk yang sesungguhnya—apalagi menghitungnya satu per satu.

Hidup kami sederhana, disambung lembaran-lembaran uang recehan. Ilmu hitung kami kelas rendahan: Berapa untuk makan sehari-hari, uang jajan anak sekolah, biaya transportasi, biaya listrik bulanan, dan kadang-kadang cicilan motor, dispenser atau DVD player.
Tak perlu kalkulator. Bila sedang beruntung, kami bisa punya sisa uang untuk jalan-jalan di akhir pekan. Bila sedang sulit, kami tidak kemana-mana, Pak: Kami mencari kebahagiaan gratisan di televisi—meski kadang-kadang justru dibuat pusing dengan berita-berita tentang pejabat-pejabat negara yang korupsi.

Tahukah Bapak, di televisi, juga koran-koran dan majalah: Kami seperti tak punya presiden! Kami seperti tak punya pemimpin! Negara ini terlanjur dikuasai para bandit dan bajingan tengik yang hanya tahu tentang memperkaya diri sendiri! Ah, mungkinkah Bapak tak sempat menonton TV atau membaca koran sehingga Bapak tak mengetahuinya? Tapi, kemana saja sih Bapak selama ini? Ngapain saja di istana? Mana janji-jani Bapak yang dulu terdengar indah dan gegap gempita?

Kami, rakyat biasa, sesekali butuh kabar gembira, Pak. Kadang-kadang kami berkhayal bahwa jangan-jangan kami ini sedang hidup dalam sinetron? Mungkinkah yang duduk di istana negara itu bukan Bapak—tapi kembaran Bapak yang menyamar atau tertukar? Kemana Bapak yang dulu penuh semangat untuk menyejahterakan rakyat? Lupakah Bapak pada janji-janji Bapak? Mungkinkah kepala Bapak terbentur batu dan lantas hilang ingatan?

Pak Presiden yang baik,

Harga BBM terlanjur naik… Sempat juga turun, tetapi kemudian naik lagi, dan naik lagi. Konon ia mengikuti mekanisme pasar, bergantung pada naik-turun harga minyak dunia. Tapi, Pak, di pasar-pasar becek yang kami tahu, ketika harga sudah terlanjur naik karena BBM naik, ia tak kenal kata turun lagi! Apakah Bapak juga mau menyerahkan nasib kami kepada mekanisme pasar dunia? Alamak!

Lihatlah pejabat-pejabat anak buah Bapak yang hanya bisa meminta kami bersabar dan mengerti! Dengan gagah dan seolah baik hati konon mereka akan memberi kami kompensasi: Membuat kami mengantre untuk mendapatkan uang bantuan agar kami tak merasa kesulitan.
Tapi, pikiran kami sederhana saja, Pak, benarkah Bapak suka melihat kami mengantre—panjang-mengular dari Sabang sampai Merauke? Kami tidak suka itu, Pak. Kami tak suka terlihat miskin, apalagi menjadi miskin. Kalau memang Bapak punya uang untuk dibagikan kepada kami, pakailah uang itu, kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan ‘perekonomian nasional’ yang konon tak kuasa menahan gertakan dollar Amerika dan gejolak harga minyak dunia.

Pak, sudahlah, tak perlu mengeluarkan kartu apa-apa lagi… Dompet kami sudah cukup tebal dengan kartu-kartu, tetapi sekaligus hanya memuat lembar-lembar rupiah yang makin hari makin tipis. Sudahlah tak perlu menyalahkan siapa-siapa, berdirilah untuk membela kepentingan dan nasib hidup kami.
Ada apa dengan Bapak ini? Tak perlu takut siapa-siapa, Pak! Bila Bapak disandra mafia, pejabat-pejabat yang bangsat, atau pengusaha-pengusaha yang menghisap rakyat, tolong beritahu kami: Siapa saja mereka? Kami akan bersatu untuk membantu Bapak melawan dan melenyapkan mereka. Tentu saja, semoga Bapak bukan salah satu bagian dari mereka!

Pak Presiden yang baik,

Dengarkanlah kami, berdirilah untuk kami, berbicaralah atas nama kami, belalah kami: Maka kami akan selalu ada, berdiri, bahkan berlari mengorbankan apa saja untuk membelamu. Berhentilah berdiri dan berbicara atas nama sejumlah pihak—membela kepentingan-kepentingan golongan atau partai. Berhentilah jadi bagian dari mereka yang ingin kami benci sampai mati. Jangan jadi penakut, Pak Presiden, jangan jadi pengecut!

Buanglah kalkulatormu, singkirkan tumpukan kertas di hadapanmu, lupakan bisikan-bisikan penjilat di sekelilingmu! Lalu dengarkanlah suara kami, tataplah mata kami: Tidak pernah ada satupun pemimpin di atas dunia yang sanggup bertahan dalam kekuasaannya jika ia terus-menerus menulikan dirinya dari suara-suara rakyatnya!

Pak Presiden,

Sekali lagi, tentang kenaikan harga minyak, barangkali kami memang tak pandai berhitung. Tapi, sungguh, kami tak perlu menghitung apapun untuk memutuskan mencintai atau membenci sesuatu; Termasuk mencintai atau membencimu!

-Dari seseorang yang dulu mendukungmu, yang kini merasa kecewa karena Bapak menyia-nyiakan dukungan itu!

FAHD PAHDEPIE

PS: Saya pernah mengirimkan sebuah surat dengan nada yang sama kepada Presiden SBY, tahun 2012.

Previous
Next Post »