Selasa, 07 April 2015

Kisah Sukses Muhammad Ali Akbar Taufani pemilik Rumah Denim dan Jeans, Berawal Dari Iseng

kotabontang.net - Pakaian berbahan denim alias jins sering dianggap "pakaian wajib" disaat santai. Tak heran, hampir setiap orang memiliki celana atau baju berbahan jins. Pamor jins juga tetap berkibar, meski modelnya tak terlalu banyak berubah.

Maklum, bahan ini bisa dipakai mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Jins juga gampang disandingkan dengan jenis kain lain, beragam corak dan warna. “Istilahnya, jins itu eksis sepanjang masa,” kata Muhammad Ali Akbar Taufani, pemilik Rumah Denim dan Jeans.

Itu sebabnya, tak cuma produsen jins massal saja yang bisa merasakan berkah dari popularitas jins. Pembuat pakaian jins sesuai pesanan (customized), seperti Ali, juga kecipratan. Pria yang mengawali usaha pembuatan jins sejak 2011 ini telah membuka tiga cabang Rumah Denim dan Jeans. Masing-masing di Jakarta Selatan (Gandaria City dan Bintaro), serta Tangerang Selatan (Pamulang). Dalam waktu dekat, Ali akan membuka cabang di Bali.

Ali mulai menawarkan jasa pembuatan jins setelah banyak teman yang memesan celana jins seperti miliknya. “Awalnya, saya iseng, jahitin celana dengan model seperti celana jins pemberian teman dari Australia,” kenang dia. Tak disangka, banyak temannya yang suka dan memesan.

Karena ingin berbisnis, pria 25 tahun ini lantas menawarkan jasanya lewat online. Setelah punya pelanggan, dia baru menyewa toko yang sekaligus menjadi tempat produksi.

Saat ini Rumah Denim dan Jeans memiliki koleksi 80 jenis bahan. Selain denim, tersedia pula bahan kanvas dan korduroi. “Kalau denim saja sekitar 35 jenis–40 jenis dengan berbagai warna, ketebalan, dan serat,” kata Ali.

Bukan cuma kain jins lokal, Rumah Denim juga memiliki stok bahan jins impor, seperti dari Thailand, Korea, dan Jepang.

Sejauh ini, model celana jins tak jauh berbeda, yakni skinny, slim fit, slim straight, dan reguler. Ali pun menyanggupi pesanan dengan model-model tersebut. Selain celana, dia juga menerima pesanan kemeja, jaket, dan baju katak.

Untuk cabang di Bintaro, pembuatan pakaian jins memakan waktu 3 hari–4 hari. Rumah Denim juga melayani pesanan kilat: empat jam sampai sehari langsung jadi. “Tapi, konsumen harus datang ke cabang di Pamulang karena penjahit di sana lebih banyak,” tutur Ali.

Tak hanya melayani pesanan ritel, Rumah Denim juga menerima order dalam partai besar. “Kami membantu anak-anak muda yang ingin jualan jins dengan merek mereka sendiri,” kata Ali. Kini, ada 30 brand yang memesan kepadanya. 

Saban bulan, Ali sanggup menyelesaikan 1.000 helai pakaian jins di ketiga rumah produksinya. “Kalau ramai bisa berlipat hingga 3.000 potong,” ujar dia.

Banderol harga jins pesanan itu mulai Rp 165.000–Rp 750.000. Biasanya pesanan ramai berdatangan saat Idul Fitri, Natal, tahun baru, dan Valentine Day.

Dari bisnis ini, perolehan omzet Rumah Denim cukup besar. Ali bilang, saat ramai pesanan omzet berkisar Rp 250 juta hingga Rp 300 juta. Sedangkan, omzet rata-rata per bulan mencapai Rp 100 juta. Ali bilang, profit usaha ini berkisar 10 persen-30 persen. Anda tertarik? (J. Ani Kristanti, Pradita Devis Dukarno/kontan)

Previous
Next Post »