Sabtu, 11 April 2015

Kanker Payudara Lebih Berbahaya dari Kanker Serviks

kotabontang.net - JIKA ingin membanding-bandingkan, berat disampaikan bahwa kanker payudara lebih rentan daripada kanker serviks (rahim). Sebab kanker serviks dapat menyerang perempuan yang belum maupun sudah berhubungan seks.

Berbeda dengan kanker serviks yang menjadi ancaman bagi perempuan yang berhubungan seks. Kabar buruknya lagi, kanker payudara lebih sulit dicegah karena penyebabnya sulit diketahui.

Meski begitu, menurut dr Fernando TT Sitorus SpOG, sebagian besar risiko kanker payudara menyerang perempuan usia 40-45 tahun.

“Ada beberapa faktor yang dapat membuat seorang perempuan terserang kanker payudara. Biasanya karena pola gaya hidup tidak sehat, faktor genetik, perubahan hormon yang membuat perkembangan sel di payudara terganggu, atau payudara pernah terbentur,” jelasnya dilansir Kaltim Post .

Walaupun begitu, setiap perempuan bisa mengetahui sedini mungkin kanker payudara. Yatu dengan mendeteksi peka periksa payudara sendiri (Sadari).

“Raba serta cermati bila ada perubahan bentuk di permukaan payudara. Apakah ada benjolan atau pembengkakan, perubahan puting, atau ada keluar cairan dari puting,” paparnya.

Jika tanda-tanda tersebut didapat segera periksakan ke dokter. Kecurigaan benjolan tersebut dapat dilanjutkan dengan melakukan biopsy.

"Payudara ditusuk jarum halus dan diambil cairan sel untuk diperiksa,” jelasnya.

Kasus kanker payudara lebih menyeramkan diakui Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Kaltim. Meski risikonya menyerang perempuan paruh baya. Banyak kasus memprihatinkan, karena banyak kasus perempuan muda masa kini terserang payudara.

YKI Kaltim mencatat, pengidap penyakit kanker dari tahun ke tahun terus meningkat. Di Samarinda misalnya, pengidap kanker payudara menempati posisi teratas setelah kanker serviks.

“Dalam sebulan, paling tidak ada empat kasus baru. Jadi, bila dihitung secara kasar ada 48 kasus kanker payudara yang ditangani,” ujarnya Ketua II YKI Kaltim RA Astogini.

Dia menjelaskan, beragam faktor yang bisa menimbulkan penyakit ini. Salah satunya faktor genetik. Bila dari riwayat keturunan ada yang mengidap penyakit ini, maka risiko untuk mengidap penyakit tersebut semakin besar.

Mantan Kepala Balai Laboratorium Kesehatan Samarinda itu menjelaskan, kini terjadi pergeseran tren pengidap kanker. Bila sebelumnya, pengidap kanker ada pada rentang usia 50 tahun ke atas. Kini, pengidap kanker menyerang usia yang lebih muda.

“Ada yang baru berusia 26 tahun sudah terdeteksi mengidap kanker payudara. Perkembangan sel kanker, saat ini lebih agresif dibanding sebelumnya,” kata Astogini.

Previous
Next Post »