Sabtu, 11 April 2015

Bisnis Kuliner Unik : Telor Ceplok "Scotch Eggs"

Vegetables Pad Thai, salah satu menu di Manggo Tree Bistro, Jakarta. Penampilan Pad thai atau kwetiau goreng ini mengingatkan pada makanan serupa yang dijual di jalan di Bangkok, disajikan dengan balutan telur dadar beserta kondimen taburan kacang tanah goreng yang ditumbuk kasar, dipadu remahan ebi. TEMPO/Jacky Rachmansyah
kotabontang.net - Sepotong Scotch Eggs tersaji di meja kami siang itu. Ini adalah salah satu menu andalan restoran Benedict, yang baru saja buka dua bulan lalu di lantai dasar Grand Indonesia, Jakarta. Sesuai dengan namanya, kudapan ini berupa sajian telur ceplok setengah matang yang disajikan bersama muffin Inggris, daging sapi asap, dan saus Belanda. Benedict memang mengunggulkan variasi menu yang crunchy dikunyah saat sarapan, terutama terbuat dari telur.

Selain Scotch Eggs, ada beberapa menu telur yang sengaja dibuat untuk menggugah lima jejak pada indra pengecap. Sebut saja Eggs Benedict Florentine, telur ceplok yang disajikan meleleh di atas roti challah yang sangat lembut dan garing. Di antara roti diselipkan daging salmon yang digoreng tak terlalu matang. Dua selip roti ini disiram saus Belanda dan diberi sedikit tobiko, sehingga asin, gurih, pedas, asam, dan manis didapat dari sajian ini.
Dua sajian pemancing lidah ini dibuat berdasarkan perencanaan dan pemikiran panjang dari juru masaknya. Sebab, brunch di Benedict bukan masakan massal yang dapat dibuat dalam waktu seketika. Ini semua adalah hasil pemikiran dan percobaan duo chef lulusan Culinary Institute of America (CIA), Fernando Sindu, 35 tahun, dan Ivan Wibowo, 28 tahun.

Keduanya mengasah kemampuan memasak tidak cuma di Indonesia, tapi juga di restoran terbaik dunia, seperti Arzak, Per Se, Aida, dan Quay. Adapun Ivan Wibowo pernah bekerja langsung di bawah Rene Redzepi, pemilik restoran nomor satu dunia versi Restaurant Magazine, Noma, di Denmark.

Nando menetap di Indonesia sejak 2011 saat ia hendak mengurus perpanjangan visa tapi ditolak. "Itu pas kejadian meledaknya WTC. Banyak perusahaan Amerika yang membatasi menerima pekerja asing," ujar Nando. Namun dia tidak patah semangat dan mulai melirik bisnis kuliner di Tanah Air.
Iseng-iseng dia membuka akun media sosial dan bertemu teman sesama lulusan CIA, Ivan Wibowo. Keduanya lalu bersepakat menciptakan bisnis baru pada bidang olah-mengolah makanan, yaitu private dining, maka lahirlah G48 (baca: Good for Eat). Ini layanan memasak makanan secara langsung dalam pesta makan privat untuk 20-25 tamu.

Dalam waktu singkat, G48 berkembang pesat. Lalu muncullah ide tentang restoran yang menyediakan menu makanan berbeda. "Bagi kami, menu sajian terbaik adalah yang dapat mengakomodasi lima rasa, yaitu manis, asam, asin, gurih, dan tannin," kata Nando. 
Sumber : Tempo

Previous
Next Post »