Minggu, 01 Maret 2015

Sergio Canavero : Dokter Italia Klaim Cangkok Kepala Manusia Bisa Dilakukan

kotabontang.net - Sergio Canavero, seorang dokter di kota Turin, Italia, membeberkan cangkok kepala manusia sudah bisa dilaksanakan dalam waktu yang tak terlalu lama.

Canavero berharap bisa membentuk sebuah tim dokter untuk mengeksplorasi pembedahan radikal ini dalam sebuah proyek ambisius yang akan diluncurkan dalam sebuah pertemuan para pakar bedah saraf di Maryland, AS pertengahan tahun ini.

Jika tim ini terbentuk maka langkah ambisius selanjutnya adalah melakukan transplantasi kepala manusia pada 2017.

Selama bertahun-tahun, Canavero mengklaim ilmu kedokteran telah mengalami kemajuan pesat hingga mencapai titik yang memungkinkan sebuah transplantasi tubuh secara penuh.

Namun, klaim Canavero ini masih dianggap tak masuk akal, menakutkan dan tak bisa dipercaya bahkan oleh sesama dokter bedah.

Kepada majalah New Scientist, Canavero mengatakan dia ingin melakukan transplantasi tubuh untuk memperpanjang hidup orang-orang yang mengidap penyakit yang tak bisa disembuhkan.

"Jika masyarakat tak menginginkannya maka saya tak akan melakukannya. Namun jika masyarakat AS atau Eropa tak menginginkannya, bukan berarti rencana ini tak bisa dilakukan di tempat lain," kata Canavero.

Jika masalah teknis terkait cara "memasangkan" kepala manusia hidup ke tubuh yang sudah mati, menghidupkan kembali manusia yang sudah direkonstruksi serta melatih kembali otak mereka bisa teratasi, maka problem berikutnya adalah masalah etika.

"Penghalang utama adalah masalah etika. Apakah operasi semacam ini bisa dilakukan? Tentu saja banyak orang yang tak akan setuju," kata Canavero.

Dicoba terhadap kera

Ide melakukan transplantasi kepala sudah pernah dicoba. Pada 1970, Robert White memimpin sebuah tim di Universitas Case Western, Cleveland, AS mencoba mencangkokkan kepala seekor kera ke tubuh kera lainnya.

Para dokter anggota tim itu kemudian terbentur pada masalah pemindahan saraf tulang belakang. Alhasil kera itu tak bisa menggerakkan badannya.

Sejak saat itu, upaya melakukan transplantasi kepala nyaris tak pernah terdengar lagi hingga tahun lalu. Saat itu para peneliti di Universitas Harbin, China membuat sebuah terobosan dengan menggunakan tikus.

Para dokter di Universitas Harbin berharap bisa menyempurnakan teknik transplantasi mereka sehingga bisa menjadi tonggak dalam sejarah ilmu kedokteran dan berpotensi menyelamatkan jutaan orang.

Meski Canavero sangat antusias dengan rencananya ini, namun banyak ahli bedah dan pakar saraf yakin masalah teknis masih akan menjadi penghalang terjadinya transplantasi kepala manusia dalam waktu dekat.

Salah satu kendala adalah saat ini belum ada yang mengetahui cara menyambungkan kembali saraf tulang belakang dan membuatnya kembali bekerja dengan normal. Jika hal itu bisa dilakukan maka orang-orang yang lumpuh akibat cedera di saraf tulang belakang seharusnya bisa disembuhkan dan bisa kembali berjalan.

"Tak ada bukti yang menunjukkan hubungan antara saraf dan otak akan menghasilkan sebuah fungsi motorik setelah transplantasi kepala dilakukan," kata Richard Borgens, direktur Pusat Riset Kelumpuhan di Universitas Purdue, Indiana, AS.

"Ini adalah sebuah proyek yang berlebihan dan kemungkinan untuk dilaksanakan sangat kecil," ujar Harry Goldsmith, profesor bedah safar di Universitas California Davis kepada majalah New Scientist.

Previous
Next Post »