Sabtu, 07 Maret 2015

Ramai-ramai Berbisnis Batu Akik

kotabontang.net - Tren penggunaan batu akik membuka berbagai celah bisnis. Peluang yang datang tak cuma terbatas di usaha penambangan ataupun penjualan. Mereka yang ahli memotong dan memoles batu, serta membuat cincin pengikat akik, juga kebagian rezeki.

Usaha yang terkait dengan batu akik itu punya nama populer bengkel akik. Selama akik ngetren belakangan ini, permintaan jasa potong, poles, dan ikat memang meningkat karena banyak penggemar akik yang membeli batu yang belum diolah alias batu mentah.

Tentu ada alasan sehingga batu mentah lebih populer. Pembelian akik dalam satuan berat kini lebih disukai. Dengan membeli 1 ons, peminat akik bisa mendapat tiga jenis batu sekaligus seperti black oval, raflesia, dan bacan. Bandingkan jika membeli batu yang sudah jadi atau sudah berbentuk cincin, pembeli cuma mendapat satu jenis batu akik.

Alasan lain orang membeli batu mentah, menurut Andri Ariadi, yang sudah menggemari batu akik sejak 11 tahun lalu, adalah karena ingin berbagi dengan teman atau kerabat. “Kalau beli bongkahan bisa dibagi-bagi,” tutur pemilik Adam Gems 83, yang berlokasi di Rawa Belong, Jakarta Barat.

Tren membeli bongkahan itu juga tampak dari pelanggan Adam Gem 83 yang kini berusia satu setengah tahun. Kendati menjajakan batu jadi, Adam Gem lebih banyak kedatangan order jasa memotong, memoles, dan mengikat. “Yang datang untuk memoles bisa 15 orang per hari. Sedang batu jadi yang terjual sekitar 5 cincin–10 cincin per hari,” tutur Andri.

Jumlah order yang tak jauh berbeda dituai oleh Lay dan Nizal yang bersama-sama menjalankan gerai bengkel akik di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Gerai mereka yang baru berusia setahun bisa menampung hingga 10 permintaan per sehari.

Andri mengaku sudah balik modal setelah setahun berbisnis. Ia memasang potong dan poles Rp 30.000. Catatan saja, itu tarif rata-rata. Andri juga melihat ukuran batu saat memungut fee potong dan poles.

Tarif akan lebih mahal jika harga batu mentah terlalu kecil karena tingkat pengerjaan yang lebih sulit. Begitu pula pemotongan dan pemolesan batu yang terlalu besar juga mahal karena butuh waktu lama.
Adapun tarif mengikat alias membentuk cincin lebih mahal karena menghitung bahan pembuat ikatan cincin. Material yang biasa digunakan sebagai ikatan adalah aluminium, titanium, dan perak. Harga ikatan dari aluminium paling murah, berkisar puluhan ribu rupiah. Sedang ikatan dari perak bisa seharga Rp 600.000 per cincin.

Saat ini nilai omzet per bulan Adam Gem bisa Rp 30 juta. Namun usaha Andri memang tak cuma jasa potong, poles, dan ikat, melainkan juga penjualan batu. Dalam hitungan KONTAN, Andri bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp 200.000 per hari dari jasa bengkel.

Kendati membukukan omzet yang lebih kecil, baru sekitar Rp 5 juta per bulan, Lay memperkirakan margin yang dikantonginya lumayan tinggi, minimal 30% dari nilai omzet.

Mereka yang ingin merasakan hangatnya demam batu akik wajib memiliki beberapa peralatan. Kebutuhan dana terbilang fleksibel karena dua alat utama usaha ini, yaitu alat potong dan alat poles bervariasi dan bisa dibuat sesuai order

Dalam hitungan Andri, mereka yang tertarik membuka bengkel akik harus keluar duit maksimal Rp 15 juta untuk pengadaan alat. Nilai investasi sebesar itu sudah terbilang ideal karena bisa dipakai untuk membeli meja, satu mesin potong, dua mesin gosok, alat penggiling logam, berikut perlengkapan yang mutlak ada, seperti ampelas dan lem.

Saat memulai usahanya sekitar setahun lalu, Andri merogoh kocek sekitar Rp 10 juta. Perinciannya, Rp 2 juta untuk membeli mesin potong berikut meja. Ia menyiapkan dana yang lebih besar lagi untuk mesin gosok, hingga Rp 6 juta.
Andri memang merakit sendiri mesin gosoknya dari besi yang antikarat. “Karena mesin itu selalu dipakai bersama air, kalau bahannya tidak antikarat, mesinnya akan cepat karatan dan macet,” tutur Andri.

Peralatan untuk menggiling perak juga ia beli untuk melengkapi usahanya, seharga Rp 1,75 juta. Di luar itu, ia juga harus membeli peralatan lain seperti ampelas dengan nilai belanja ratusan ribu rupiah.

Sedang Nizal dan Lay memulai usahanya dengan skala yang lebih kecil. Modal awal yang mereka keluarkan berkisar Rp 1 juta. Sebesar Rp 500.000 untuk pembelian mesin potong, dan Rp 300.000 untuk alat poles. Ampelas dan gerinda disiapkan bermodal Rp 200.000 saja.

Kebutuhan modal memang tak besar-besar amat, sesuai bentuk usaha ini yang simpel. Keterampilan yang dituntut untuk memotong, memoles, dan mengikat bisa diserap secara autodidak. Baik Andri, Nizal, maupun Lay yang langsung terlibat dalam usaha mereka, mengaku belajar sendiri untuk mendapatkan ilmu tentang batu-batuan.

Jika punya modal yang lebih besar, Anda bisa saja mempekerjakan orang lain. Kendati punya karyawan, Anda tetap harus paham ilmu tentang bebatuan. Jika sama sekali buta, Anda bisa dikelabui karyawan.

Jika ingin memulai usaha dengan mempekerjakan orang, Anda kudu menyusun skema penggajian yang pas. Pemberian gaji yang nilainya tetap per bulan mungkin kurang pas. Anda bisa jadi terbebani biaya gaji, saat bengkel akik Anda paceklik pesanan. Namun pada saat order mulai membanjir, giliran karyawan yang merasa tak puas dengan gajinya karena pekerjaan bertambah.

Andri yang mempekerjakan dua orang menggunakan skema bagi untung setelah dikurangi biaya. Selain itu, ia menanggung biaya makan plus rokok dua orang tukangnya.

Pengeluaran lain yang juga rutin harus ditanggung adalah belanja peralatan. Ampelas dan batu gerinda adalah dua peralatan yang memiliki usia pemakaian. Lama atau cepatnya masa penggantian tentu bergantung pada seberapa sering keduanya dipakai. Ampelas, yang harganya sekitar Rp 50.000, biasanya diganti dalam hitungan minggu. Sedang batu gerinda bisa diganti lebih lama lagi, hingga berbilang bulanan.

Biaya rutin lain yang harus ditanggung adalah biaya listrik. Besar kecilnya bergantung pada laris atau tidaknya usaha Anda. Jika menyewa tempat, anggarkan juga biaya sewa tempat. Untuk mengukur mahal atau murahnya biaya sewa, keramaian lokasi berikut luas tempat bisa menjadi patokan.

Pemilik bengkel akik bisa menyasar orang-orang di sekitarnya sebagai pasar awal. Andri menawarkan jasanya ke teman-teman kantornya, selain ke tetangga dan kerabat. Ia juga menawarkan jasanya melalui situs media sosial. Pasar yang kurang lebih sama yang dibidik oleh Lay dan Nizal.

Previous
Next Post »