Senin, 09 Maret 2015

Lika-liku Pendiri First Travel Hingga Jadi Miliader

kotabontang.net - Tahun 2015 seperti menjadi babak baru bagi First Travel. Di usianya yang hampir menginjak enam tahun pada Juli ini, sang punggawa Andika, baru saja meluncurkan logo baru First Travel. Logo anyar tersebut diharapkan dapat mencuatkan semangat baru bagi pendiri maupun seluruh karyawan untuk semakin menancapkan eksistensi perusahaan sebagai agen perjalanan umroh ternama dan terpercaya.

"Bagi kami perjalanan bisnis hampir enam tahun syarat dengan cerita maupun filosofis yang tak pernah bisa kami lupakan. Logo baru ini bermakna bahwa kami ingin terus berkarya, melakukan pembaruan ke depan," ucap Andika didampingi sang Istri, belum lama ini.

Membawa perusahaan menggapai puncak kesuksesan dalam kurun waktu lima tahun dianggap banyak orang mustahil, bahkan terlalu singkat. Namun tidak bagi Andika dan Anniesa. Keduanya mengaku, ini merupakan proses panjang, penuh liku dan menguras air mata.
Modal Gadai Rumah

Anniesa mengaku, ide membuka agen perjalanan umroh berawal dari cibiran hingga kecemburuan tetangga saat dia berjualan pulsa dan burger di pinggir jalan. Andika pun mengawali karir sebagai penjaga mini market karyawan bank honorer dan lainnya.

"Dari usaha jualan pulsa dan burger, modal awal saya gadai motor suami. Tapi ternyata kurang mencukupi dan selalu disiriki oleh rekan seprofesi, akhirnya kami banting setir buka usaha travel wisata domestik dan internasional hingga merambah umroh di 2009," ucapnya.

Membuka bisnis biro perjalanan bukan perkara mudah. Pasangan ini harus mengantongi izin usaha, mendirikan CV First Karya Utama pada 1 Juli 2009 dengan biaya sangat besar. Untuk merealisasikannya, Anniesa nekad menggadai rumah Almarhum sang Ayah.

"Rumah Armarhum Ayah saya digadai dapat uang Rp 50 juta buat modal. Itu cuma habis buat biaya operasional sampai akhirnya nggak bisa bayar
bunga bank dan rumah itu disita. Tapi saya nggak mau tutup kantor, sehingga saya jadikan garasi rumah sebagai kantor," kenang Anniesa.

Ditipu, Bangkrut Sampai Niat Bunuh Diri

Andika dan Anniesa tak tahu lagi sudah berapa kali mereka harus merasakan sakit hati karena penipuan termasuk dari karyawannya. Bangkrut, hidup nomaden berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, jarang makan adalah pemandangan biasa bagi keluarga mereka di mata tetangga.
Kesedihan selalu meraungi jiwa dan batin mereka, seolah tak mau pergi dalam kurun waktu tiga tahun (2009-2011). Saat itu, usia Andika baru menginjak 22 tahun dan harus memikul beban berat di pundak.

"Sangat berat menjalani usaha. Kita menghadapi berbagai macam penipuan, kebangkrutan, hidup susah, nggak punya uang, utang sampai ratusan juta rupiah, rumah disita, pindah kontrakan satu ke kontrakan lain untuk menyambung hidup, makan nggak tentu. Dan itu berlangsung selama tiga tahun, nggak pernah ngalamin yang enak," sambung Andika.

Penderitaan bertubi-tubi memupus harapan Andika dan Anniesa melanjutkan bisnis tersebut. Bahkan sempat terlintas dalam benak mereka untuk mengakhiri hidup karena tak sanggup menanggung kepedihan itu. Bersyukur, keputusasaan tak lama bersemayam di hatinya. Anak dan keluarga membukakan mata mereka agar terus berjuang menyongsong masa depan.

Bangkit dari keterpurukan, Andika dan Anniesa mulai bergerilya. Pada 2011, keduanya agresif menyebar dan menawarkan jasa perjalanan umroh ke berbagai instansi, perorangan di seluruh Indonesia. Tuhan pun membukakan jalan, penawaran mereka direspons oleh sejumlah karyawan PT Pertamina (Persero) pada 2012. Dan pelayanan memuaskan First Travel menyebar dari mulut ke mulut hingga dipercaya oleh jamaah lainnya, seperti karyawan Bank Indonesia dan merembet ke korporat besar lain.

Belajar Otodidak

Sejak berdiri, Andika dan Anniesa memposisikan First Travel sebagai agen perjalanan umroh profesional yang sudah malang melintang membawa ratusan bahkan ribuan jamaah pergi ke Tanah Suci untuk melakukan ibadah Haji Kecil. Tapi siapa sangka, bila pasangan ini sebelumnya tak pernah punya pengalaman ibadah umroh. Jangankan umroh, naik pesawat pun baru mereka rasakan ketika membawa jamaah pertama kalinya pada 2012.

"Saat itu, saya dan istri membawa 127 jamaah ke Tanah Suci. Di sepanjang perjalanan di pesawat, saya mikir nanti saat transit di Dubai, kita harus kemana ya, wong naik pesawat saja baru pertama kalinya itu. Tapi saya berusaha tetap tenang, tanya petugas bandara pakai bahasa isyarat dan akhirnya kita sampai di tujuan," cerita Andika.

Pengalaman tak terlupakan lainnya, kata dia, saat pertama kali harus memberi contoh kepada jamaah untuk menggunakan kain ihram. Pasalnya, Andika sama sekali tidak mengetahui cara pakai ihram yang wajib dikenakan bagi seorang laki-laki bila ingin ke Tanah Suci Mekkah.

"Saya pergi ke toilet dan semua jamaah pria mengikuti saya minta diajarkan pakai ihram. Saya bingung tapi untungnya ada jamaah dari
rombongan lain yang sedang pakai ihram, lalu saya ikuti. Dan barulah saya mengajarkan jamaah saya," tutur dia terkekeh mengingat kejadian lucu itu.

Target Omzet Rp 504 Miliar

Kini, bendera First Travel telah berkibar. Andika dan Anniesa mampu meretas bisnis agen perjalanan umroh hingga bertumbuh pesat dalam
kurun waktu lima tahun. First Travel saat ini melayani perjalanan umroh reguler dan five star serta haji.

Andika mengatakan, First Travel memiliki program promo bagi orang-orang yang mempunyai keterbatasan materi. Artinya ada harga khusus untuk menyasar segmen ini tanpa mengambil keuntungan sepeser pun.

"Paket harga sama saja, ada VIP dan reguler. Tapi kami punya program promo non profit oriented. Jika harga normal dipatok US$ 2.200 atau Rp 28 juta per orang, maka harga promo ini cuma Rp 15 juta-Rp 16 juta," paparnya.

Sejak 2012, biro perjalanan ini telah memberangkatkan jamaah hingga 800 orang. Jumlahnya semakin meningkat signifikan menjadi 3.600 orang pada tahun 2013 dan dipercaya memberangkatkan hingga 14.700 jamaah di 2014. Andika menargetkan 35.000 orang jamaah diberangkatkan ke Tanah Suci pada tahun ini.

Akhir tahun lalu, First Travel meraih rekor MURI sebagai Manasik Akbar Umrah Terbesar yang pernah ada di Indonesia (dihadiri oleh 35.000 jamaah di Gelora Bung Karno Senayan).

"Nggak ada tips usaha, semua mengalir saja. Tapi dari program sama dengan travel lain, kami hanya berusaha memaksudkan pelayanan, memberi yang terbaik, melayani sepenuh hati, menganggap jamaah adalah keluarga yang harus dilayani dengan hati mulai dari tim di kantor sampai di Saudi Arabia," ujar Andika.

Dengan target pemberangkatan jamaah sebesar itu, Andika yakin dapat mengantongi pendapatan kotor dari agen perjalanan umroh sebesar US$ 40 juta atau Rp 504 miliar (kurs Rp 9.600) pada 2015. Angka itu diperkirakan meningkat dua kali lipat dari capaian omzet tahun lalu sebesar US$ 20 juta.

Ambisi lain dari peraih penghargaan Business & Company Winner Award 2014 untuk kategori "The Most Trusted Tour & Travel" itu adalah membuka paling sedikit 50 kantor cabang di seluruh Indonesia, untuk menambah satu kantor cabang saat ini. Sebab Andika optimistis, animo jamaah Indonesia untuk umroh sangat tinggi mengingat seseorang harus menunggu bertahun-tahun apabila ingin melaksanakan ibadah Haji.(vaa - ciputraentrepreneurship.com)

Previous
Next Post »