Senin, 02 Maret 2015

Begini Cara Ibu-ibu Hilangkan Kebiasaan Anak Isap Jempol

kotabontang.net - Begini Cara Ibu-ibu Hilangkan Kebiasaan Anak Isap Jempol. Mengenyot atau menggigit sesuatu menjadi bagian dari tahap perkembangan anak. Fase ini disebut oral, dimana anak senang memasukkan sesuatu ke mulut atau menggigit benda di sekitar.

Biasanya, tahap ini diiringi pertumbuhan gigi. Namun, jika tidak dicegah, kebiasaan ini bisa berlanjut hingga anak dewasa.

Menurut dr Eko Retno Budiadi (Dokter Fungsional Puskesmas Miroto, Semarang), selain tumbuh gigi, mengisap jempol bisa dialami bayi karena mengalami stressor atau tekanan. Entah itu dimarahi orangtua atau kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Kebiasaan memasukkan barang ke mulut untuk digigit atau dihisap dapat memengaruhi perkembangan rahang, gigi, dan mulut anak menjadi tidak bagus. Kebiasaan ini juga membuat perkembangan psikologis anak buruk. Karena itu, perlu perhatian orangtua sejak kecil.

Meski anak belum mengerti penjelasan kita, baiknya anak dilarang mengisap jari sejak masih kecil. Lepaskan jari dari mulut anak dan sampaikan kebiasaan tersebut tidak baik. Lama-lama, anak akan terbiasa.

Penanganan anak balita agar tidak mengisap jempol bisa lebih cepat daripada orang dewasa yang sudah terlanjur memiliki kebiasaan itu. Karena itu, sejak kecil harus dibiasakan agar si kecil tidak sembarangan mengisap atau menggigit sesuatu.

Sebut saja, Latifa Titisari (26) tak ingin gigi sang buah hati, Bagas Chandra Wibawa (2), tumbuh tidak rapi. Itu sebabnya, dia selalu mencegah sang putra menggigit atau mengisap jari tangan.

"Saya tidak ingin gigi anak saya berkembang tidak teratur. Karena apa yang saya baca dan ketahui dari teman-teman yang menjadi dokter, pertumbuhan gigi anak yang suka menggigit jari atau benda di sekitarnya bisa terganggu," ujar perempuan kelahiran Sumedang, 7 November 1988, itu.

Sejak lahir, Bagas sudah diberi sarung tangan agar jari tidak masuk mulut. Saat ini, Sari tengah mengajarkan buah hati cuci tangan sebelum makan. Dia pun memberi contoh lewat praktik. "Dulu, Bagas suka ngenyot jempol saat dia bengong. Jadi, saya selalu awas. Saat ada keinginan mengisap jempol saya selalu buat dia beraktivitas. Misal, memberi mainan," lanjut Sari.

Bagas pun mulai mengerti sejumlah larangan yang diberikan. Dia senang jika berhasil menjauhi larangan karena sang bunda memberi hadiah berupa jalan-jalan melihat bus.

"Bagas senang sekali melihat bus lewat. Kalau dia melakukan hal baik, seperti bilang kalau mau pipis atau mencuci tangan sebelum makan, saya akan ajak dia jalan-jalan hingga gang depan rumah agar bisa melihat bus. Pernah juga saya belikan kartun bus dan dia senang sekali," cerita Sari.

Menghindarkan anak dari kebiasaan mengisap jari juga dilakukan Lusi Indriani (25). Apalagi, dia punya pengalaman yang tak ingin dialami anak pertamanya, Salsa Billa (1,5). "Dulu, kata ibu, saya sering mengisap jempol jadi cedal sampai sekarang. Biasanya, saya masukkan jempol saat tidur. Jadi, saat tidak ada pengawasan orangtua," kata Lusi.

Saat ini, dirinya berupaya mengganti kebiasaan anak mengisap jari menggunakan dot atau empeng. Perempuan kelahiran Demak, 29 September 1989, itu juga tak ingin anaknya menggigit benda-benda di sekitar. "Saya beri dot. Saat tidak dipakai, empeng saya bersihkan dan dimasukkan air anget biar steril. Sampai saat ini masih saya lakukan," ujar Lusi.

Ipeh seorang ibu rumah tangga awalnya anggap isap jempol yang dilakukan buah hatinya wajar. Namun, karena tak ingin kebiasaan itu menjadi bumerang, dia mulai melakukan usaha agar si kecil tak lagi melakukan.

Putri pertama Arifah Yulianti (Ipeh) bernama Rara, punya kebiasaan mengisap jempol saat masih berumur satu tahun. Ibu muda itu pun memakai beberapa cara agar si anak meninggalkan kebiasaan ini.

"Dulu, Rara mulai ngenyot jempol saat gigi depannya mulai tumbuh. Mungkin, saat itu gatal dan paling nyaman mengisap jempol. Pertama sih memaklumi tapi saya berpikir hal seperti itu tidak boleh keterusan," ujar istri dari Rully Mulyadi itu.

"Akhirnya, saya pakai cuka. Pertama saya oleskan ke jari saya dan saya perlihatkan raut muka saya saat jilat jempol sendiri. Lalu, di jari Rara juga saya beri dan saya minta dia mencoba menjilat jempol. Dia nangis karena rasanya tidak enak. Sejak saat itu, dia jarang mengisap jempol. Meski kadang saya lihat dia gigit boneka, ya beritahu juga bisa membuat sakit perut," cerita Ipeh. (tribunjateng/m alfi mahsun)

Previous
Next Post »