Minggu, 01 Maret 2015

Aneh, Biaya Kapal ke Tiongkok Rp 11 Juta tapi ke Pontianak Rp 25 Juta

Aneh, Biaya Kapal ke Tiongkok Rp 11 Juta tapi ke Pontianak Rp 25 Juta
kotabontang.net - Berbicara tentang konsep tol laut, Ketua Asosiasi Perusahaan Nasional Pengiriman dan Pengantaran Barang Indonesia (Asperindo) Jateng, Tony Winarno mengaku masih belum paham. Sebab, hingga kini belum ada blue print apapun atau informasi jelas tentang tol laut.

Namun, ia mengeluhkan biaya logistik antarpulau yang jauh lebih tinggi dibanding antarnegara. "Blue print sistem logistik nasional saja belum selesai sampai sekarang, kalau tol laut bagaimana lagi?"tanyanya pada Tribun Jateng belum lama ini.

Owner perusahaan Total Logistic Semarang itu mengungkapkan banyak hal yang perlu dibenahi pemerintah jika tol laut dijalankan. Ia juga menyebut, tingginya harga barang di luar Pulau Jawa karena carut marutnya sistem logistik di dalam negeri.
Ia mengatakan pernah mengirim barang ke berbagai daerah di Indonesia mulai dari Kalimantan hingga Papua. Dari sisi ketersediaan kapal saja, lebih banyak kapal antarnegara dibanding kapal antarpulau.

"Sisi biaya, saya datangkan barang dari China sampai Semarang biayanya hanya 935 dolar Amerika (sekitar Rp 11 jutaan). Tapi saya kirim barang satu kontainer ke Pontianak butuh 2.000 dolar (sekitar Rp 25 juta), gimana engga mahal. Belum ke Papua," jelasnya.

Tony menjelaskan hal itu karena ketimpangan pasokan barang lokal dari daerah luar Pulau Jawa. Saat ini perjalanan pengiriman barang hanya satu arah. Seringkali kapal barang dari Kalimantan atau Papua dalam keadaan kosong saat kembali ke Jawa. Akibatnya, pengusaha harus bayar biaya pulang pergi (dua trip sekaligus).

Tidak hanya itu, kapal dari dan ke China pun jauh lebih sering dibanding kapal barang antarpulau. Kapal impor dan ekspor sedia setiap saat. Sedangkan kapal antarpulau dari Pelni maksimal empat kali dalam sebulan atau sekali seminggu. "Kalau ingin konsep tol laut, pemerintah harus memperbaiki hal-hal itu. Ketersediaan kapal, memaksimalkan potensi lokal pelabuhan di luar Jawa agar saat kembali barang tidak kosong, lalu kapal kargo khusus kontainer," urainya.

Jika pemerintah tidak memaksimalkan wilayah di pelabuhan luar Jawa, baginya program itu tidak akan maksimal. Sebab intinya adalah meratanya alur barang baik dari Jawa atau dari pulau luar Jawa. "Masak biaya antarpulau lebih mahal 120 persen dibanding ke China," imbuhnya. (tribun jateng cetak)

Previous
Next Post »