Selasa, 24 Februari 2015

Hidroponik Sederhana

kotabontang.net - Membudidayakan tanaman dengan sistem hidroponik tidaklah sesulit seperti dibayangkan kebanyakan orang. Bahkan, pembudidaya tidak harus mengotori tangannya dengan tanah dan tidak perlu khawatir dengan hama tanaman.

"Keuntungan pun bisa mencapai 100%.," kata Pembudidaya tanaman hidroponik, Very Wijaya , Selasa (18/11) di Samarinda.

Dia mengungkapkan, menanam dengan sistem hidroponik berawal dari hobi. Namun, ia kemudia berfikir, jika hanya sekedar hobi tidak akan menghasilkan apa-apa. "Akhirnya, saya mengembangkan hobi itu menjadi bisnis yang menguntungkan," kata Very.

Very mempunyai ide mengembangkan pertanian hirdoponik berawal melihat lahan kosong yang tidak terpakai di lantai 3 yang berlokasi di tempat kerjanya, Sekolah Bodhicitta Jalan Selam Kecamatan Medan Denai. Lahan itu seluas 5x4 meter persegi. Jenis tanaman hidroponik yang dibudidayakannya adalah, selada, sawi, kangkung, bayam dan sayur-sayuran lainnya yang dikonsumsi sehari-hari.

"Saya membudidayakan tanaman tersebut sejak tahun 2011. Dan, mulai membudidayakannya secara serius sejak tahun 2012. Dengan modal awal sebesar Rp 1,5 juta. Selama sebulan menanamnya sudah bisa dipanen dengan keuntungan hingga 100 persen," jelasnya.

Bayam misalnya, biasa harganya Rp 1.500 tapi bayam yang diproduksinya laku dengan harga Rp 3.000 per ikat. "Jadi, sekali panen untuk satu jenis tanaman saya sudah beromzet Rp 300 ribu per bulan," ucapnya.

Dijelaskannya, keunikan membudidayakan tanaman ini, karena tidak memerlukan tanah, cukup menggunakan air dan rowol (busa keras). Sehingga membudidayakannya tidak sulit. Selain itu, pembudidaya tidak memerlukan pestisida, karena hama tidak berminat dengan tanaman hidroponik. Ini membuat tekstur tanamannya lebih renyah dan lembut, gizi nya pun lebih bagus dibandingkan sayuran biasa.

Teknik membudidayakannya kata Very, rowol dipotong kecil-kecil sebesar dadu lalu bibit sayuran ditanam di rowol tersebut kemudian diberi air dan nutrisi (pupuk khusus hidroponik). Setelah berusia dua minggu, dipindahkan ke hidoponik dengan metode Nutrient Film Tecnigue (NFT), rakit apung atau menggunakan sumbu.

Namun, metode paling mudah dan sangat sederhana yakni menggunakan sumbu, karena bisa digunakan dari botol bekas air mineral.

Dijelaskannya, agar pertumbuhannya baik dan daunnya tetap segar maka pH kadar air harus 5,5 hingga 6,5. Jika pH di atas atau di bawah itu, pertumbuhannya menjadi kurang bagus dan daunnya bisa berubah menjadi kuning. Selain itu pertumbuhannya menjadi lambat.

Very menyebutkan, tanaman hidroponiknya sudah menembus pasar tradisional serta swalayan ternama di Kota Medan. Bahkan, Badan Penelitian dan Pengembangan Sumut dan Dinas Pertanian Sumut telah mengajaknya bekerjasama untuk memberikan penyuluhan dan pelatihan bagi pembudidaya hidroponik di Sumut.

Kegiatan itu hampir setiap sebulan sekali diadakan yang difasilitasi oleh Dinas terkait.

Previous
Next Post »