Rabu, 18 Februari 2015

Bahayanya Jika Tidak Cuci Sprei dan Kasur Secara Rutin

kotabontang.net - Ingatkah kapan terakhir kali Anda mengganti sprei tempat tidur atau mencuci bantal? Banyak orang yang mengabaikan kebersihan tempat tidur, padahal mereka menggunakannya baik di siang maupun malam hari. Jika Anda atau anggota keluarga rentan terhadap alergi atau sering mengalami gatal-gatal dan kulit kemerahan, maka bisa jadi biang keladinya berasal dari tempat tidur yang Anda tiduri setiap hari. Bukan asal membersihkan saja, tapi ini beberapa langkah yang tepat untuk menjaga kebersihannya.

1. Sprei dan Selimut
Setiap harinya, kulit manusia mengalami regenerasi dengan menyingkirkan sel-sel kulit mati. Proses pergantian sel kulit mati dengan yang baru biasanya terjadi di malam hari. Meskipun tidak terlihat, sel-sel kulit mati yang rontok bisa menempel dan tertinggal di tempat tidur. Selain itu ketika kita tidur, tubuh juga mengeluarkan keringat yang membuat sprei lembab. Sel kulit mati, keringat dan permukaan yang lembab merupakan tempat favorit kuman, kutu dan bakteri berkumpul.

Meskipun tidak terlalu membahayakan, kutu atau serangga yang bersarang di tempat tidur mengeluarkan kotoran yang menjadi pemicu alergi. Akibatnya mata bisa merah dan gatal-gatal, peradangan pada hidung hingga asthma.

Kesadaran orang untuk mengganti sprei secara rutin ternyata masih rendah. Menurut polling dari YouGov, satu dari 10 orang mencuci spreinya hanya sebulan sekali dan lebih dari 1/3 mengaku paling cepat mengganti sprei 14 hari sekali. Padahal perlu lebih sering dari itu. Laura Bowater, seorang ahli mikrobiologi dari University of East Anglia merekomendasikan mencuci sprei minimal seminggu sekali, menggunakan air panas dengan suhu 60 derajat Celcius. Air panas berfungsi membunuh bakteri dan mencegahnya bermukim di kain.

"Jemur sprei dan sarung bantal langsung di bawah matahari jika memungkinkan, karena cahaya matahari efektif membunuh mikroorganisme. Setrika juga dengan suhu panas (sekitar 100 derajat Celcius) untuk membunuh bakteri yang masih tertinggal setelah pencucian," saran Laura, seperti dikutip dari Daily Mail.

2. Bantal
Bagian dalam bantal atau busa bantal sifatnya seperti spons yang menyerap keringat, sehingga menjadi tempat favorit untuk bakteri dan kutu berkembang biak. Fakta yang mengejutkan, sepertiga dari berat bantal ternyata berasal dari kumpulan serangga, sel-sel kulit mati berikut kotorannya serta 16 spesies jamur. Bisa dibayangkan betapa banyaknya kotoran tak terlihat yang tidur bersama Anda tiap malam.

Disarankan mencuci bantal setiap tiga bulan sekali. Beberapa jenis bantal yang terbuat dari bahans sintetis cukup aman dibersihkan menggunakan mesin cuci. Cucilah dengan air bersuhu 60 derajat Celcius untuk membunuh sebagian besar bakteri. Sebaiknya gunakan deterjen cair karena deterjen bubuk bisa meninggalkan residu. Kemudian bilas hingga dua kali pengulangan agar tidak ada deterjen yang tersisa.

3. Kasur
Kotoran atau tahi kutu yang mengendap pada kasur bisa menyebabkan alergi serta asthma. Jika terdapat juga jamur di kasur, bukan tidak mungkin akan memicu reaksi alergi serius mulai dari gatal-gatal, kulit kemerahan, ruam hingga sesak napas. Kasur yang tidak pernah dibersihkan juga berpotensi menyimpan bakteri MRSA atau campylobacter yang bisa mengakibatkan demam, kram hingga diare.

"Penyedotan dan penguapan, lalu menjemur kasur Anda di bawah terik matahari setiap enam bulan sekali amat penting," ujar Laura.

Jika terkena noda seperti cairan atau makanan, Laura menyarankan untuk tidak membiarkannya terlalu lama. Segera bersihkan dengan mengusap permukaan kasur menggunakan kain yang dibasahi air dingin serta shampo atau sabun mandi cair. Gosok permukaannya hingga bersih, lalu jemur. Cara ini akan mencegah endapan kotoran serta kuman berkembang lebih banyak.
-wolipop-

Previous
Next Post »