Selasa, 06 Januari 2015

Warga Kotawaringin Barat Takut Makan Ikan, Di Duga Ikan Makan Jenazah Korban Air Asia

kotabontang.net - Di saat keluarga korban pesawat AirAsia masih larut dalam kesedihan, ada sebagian masyarakat yang tinggal di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) yang meraup keuntungan besar.

Setidaknya, hal ini dialami oleh sejumlah penjual ayam potong yang biasa berjualan di Pasar Ikan Pangkalan Bun dan Kecamatan Kumai. Dalam sepekan ini, penjualan ayam potong meningkat tajam. Karena habis diborong warga.

Ini karena banyak warga Kabupaten Kobar yang takut membeli ikan hasil tangkapan nelayan di laut. Mereka khawatir ikan hasil tangkapan nelayan dari laut, telah memakan sebagian daging jenazah korban. Akibatnya harga ayam potong melambung tinggi hingga mencapai Rp 40 ribu perkilogramnya.

Salah seorang pedagang ayam potong di Pasar Indrasari Rusdiana mengakui, selama lima hari terakhir, penjualan ayam potong meningkat tajam. Khususnya untuk ayam ras.Dalam beberapa hari terakhir,ayam potong yang dijualnya selalu habis terjual.

“Penyebab masyarakat ramai membeli ayam potong sepekan ini.Karena mereka takut, ikan yang ditangkap nelayan di laut itu memakan potongan jenazah para korban pesawat AirAsia yang jatuh kelaut itu,” ujarnya kepada Kalteng Pos (Grup JPNN), Selasa (6/1).

Dia menambahkan, penjualan ayam potong tersebut meningkat tinggi.Jika biasanya dalam sehari hanya menghabiskan 20 kilogram, sejak adanya kejadian jatuhnya pesawat ini kata dia, penjualan bisa mencapai 40 kilogram.

“Bahkan,ada tetangga saya pedagang disamping sampai menghabiskan 50 kilogram per hari,”paparnya.

Diterangkannya, akibat tingginya penjualan dan permintaan masyarakat tersebut sebagian pedagang setempat terpaksa menaikan harga jualnya. Yang biasa dijual Rp27-30 per kilogramnya,naik menjadi Rp 40 ribu per kilogramnya.

Kondisi terbalik justru dialami penjual ikan. Selama sepekan ini penjual ikan mengalami penurunan daya jual. Karena sepekan ini, para pembeli banyak yang mengurungkan niat untuk membeli ikan laut. Sementara untuk ikan sungai tidak mengalami penurunan.

“Kita takut membeli ikan di laut itu, karena ngeri aja. Bayangkan, saat membersihkan perut ikan, tiba-tiba ada...,” ungkap salah seorang warga pembeli Rudianur kepada Kalteng Pos, Selasa (6/1).

Previous
Next Post »