Rabu, 07 Januari 2015

Resensi FIlm : Erau Kota Raja, Drama Cinta dalam Bingkai Budaya

Resensi FIlm : Erau Kota Raja, Drama Cinta dalam Bingkai Budaya
kotabontang.net - Resensi Film : Erau Kota Raja, Drama Cinta dalam Bingkai Budaya. Tanpa sadar, generasi muda lebih memilih berkiprah di kota dan meninggalkan kampung halaman. Hanya sedikit yang tetap bertahan. Apalagi kebalikannya, meninggalkan kota dan memilih mengembangkan budaya di kampung.

Tapi Reza (Denny Sumargo) adalah satu dari yang langka. Usai menimba ilmu kedokteran, putra Dayak itu justru memilih mengabdikan hidup di kampung halaman. Tenggarong, Kalimantan Timur. Di sana lah ia bertemu Kirana (Nadine Chandrawinata), seorang jurnalis dari Jakarta.

Kirana datang ke Tenggarong dengan setumpuk masalah. Tuntutan pekerjaan, kealpaan cinta, dan beban dari orangtua menghantuinya. Kirana menjadi jurnalis hanya karena keinginan ayah dan ibunya. Perjalanannya meliput acara budaya berskala internasional--Erau International Folklore & Art Festival--pun terpaksa.

Namun kepergiannya kali ini mengubah hidup Kirana selamanya. Ia jadi terbuka akan keragaman budaya Indonesia yang begitu besar. Sekitar 300 kelompok etnik tersebar dari Sabang sampai Merauke, salah satunya Dayak.

Ia juga memahami betapa kekayaan budaya itu tidak diimbangi kecintaan dari pemiliknya sendiri. Seiring gempuran globalisasi, budaya dalam negeri pun semakin terancam. Hanya segelintir anak muda yang meminatinya.

Bukan hanya itu. Kedatangan Kirana ke Tenggarong juga diwarnai konflik percintaan dan persahabatan. Ia bahkan memicu konflik antara Reza dan ibundanya (Jajang C Noer). Keinginan ibu melihat anaknya sukses bergelimang materi, bertolak belakang dengan idealisme Reza. Kehadiran Kirana, memanaskan konflik itu.

Semua permasalahan itu terangkum dalam film karya Bambang Drias, Erau Kota Raja. Ia memunculkan ironi anak muda dan budaya. Poin ketika anak muda lebih suka bekerja mengejar materi di kota dibanding membangun budaya dan masyarakatnya sendiri. Poin di saat masyarakat budaya trauma atas kehilangan karya leluhur akibat minimnya generasi penerus yang peduli.

Jalan cerita yang disampaikan sebenarnya dapat dikemas dengan lebih dramatis dan mengena. Namun Bambang menggarap Erau Kota Raja seperti sekadar mengenalkan budaya daerah setempat. Akibatnya, semua terasa 'nanggung'.

Pengambilan gambar Erau International Folklore & Art Festival serta seluruh momen indah Kutai terasa kurang rapi. Penonton pun kurang terpukau. Drama yang ditampilkan juga kurang menggigit. Akting para pemainnya tidak ada yang menonjol, kecuali Jajang C Noer dan Ray Sahetapy yang memang sudah sangat senior.

Namun, keberanian Bambang mengambil tema budaya yang jarang diekspos secara murni di film Indonesia, patut diapresiasi. Biasanya film-film lain hanya memasukkan unsur itu sebagai warna tambahan, bukan yang utama. Tapi Erau Kota Raja cukup memberikan gambaran awal kekayaan budaya dan alam Indonesia.

Film yang rilis 8 Januari ini memang bertujuan mempromosikan budaya dan kekayaan Kutai. Rencananya, karya yang didukung Pemerintah Daerah Kutai Kartanegara ini akan dikampanyekan seantero Kutai Kartanegara langsung oleh sang Bupati, Rita Widyasari. Malaysia dan Brunei Darussalam pun bakal kecipratan menontonnya.

Previous
Next Post »