Jumat, 16 Januari 2015

Kisah Sukses Bisnis Kaos Limited Edition Nagud Banyuwangi

kotabontang.net - Kaos dengan desain khas daerah bisa menghasilkan pundi-pundi uang yang lumayan besar. Seperti yang dilakukan oleh Annisa Febby Chaurino yang memilih berwirausaha dengan membuat kaos limited edition dengan desain khas Banyuwangi.
Annisa mengungkapkan, setiap satu desain hanya diproduksi untuk 18 potong. "Sengaja agar tidak pasaran" jelas pemilik sekaligus desainer kaos berlabel Nagud Banyuwangi kepada Kompas.com Senin (4/8/2014).

Ia mengaku tidak ingin memproduksi kaosnya dalam jumlah yang cukup banyak apalagi dengan kualitas yang rendah.

Annisa mengawali bisnis clothing tersebut sejak tahun 2012, tepatnya satu bulan setelah ia lulus jurusan design produk industri ITS Surabaya dengan bermodalkan sebesar Rp 2 juta, yang dia peroleh dari pinjam ke orang tua. Untuk pemasaran, dia memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Twitter, serta web site dengan nama Nagud Banyuwangi.

"Alhamdulilah responnya cukup bagus, karena memang konsep yang kami tawarkan berbeda dengan produk lain. Desain nya juga asli karya saya dan mengharamkan copy paste desain orang lain," katanya.

Sebelumnya, Annisa memang pernah menjuarai lomba desain kaos se-Jawa Timur pada tahun 2010 saat masih duduk dibangku kuliah. Hal itulah yang membuat dia percaya diri merintis bisnis ini.

Setelah satu bulan ia mempelajari sistem administrasi dan proses pembuatan kaos, ia memberanikan diri untuk meminjam uang ke bank. "Saya beranikan diri karena sudah hitung-hitung pemutaran uang. Hasil pinjaman uang di bank saya buat kerjasama dengan kakak saya di Surabaya untuk membuat kaos," jelasnya.

Untuk harga, Annisa membanderol produknya sedikit lebih mahal jika dibandingkan tempat lainnya dengan kisaran harga Rp 90.000-Rp 150.000 per potong. "Untuk satu desain biasanya gambar saya selesaikan sekitar 1 minggu. Terkadang juga disesuaikan dengan mood," katanya sambil tertawa, "Paling tidak satu bulan saya mengeluarkan minimal 2 desain."

Hingga saat ini dia memproduksi kaos di Surabaya. Namun ke depan dia berharap agar produksi bisa dilakukan di Banyuwangi. Hal ini dilakukan untuk ikut mengangkat Banyuwangi menjadi salah satu kiblat bisnis clothing.

"Kalau selama ini bicara clothing selalu identik dengan Bandung, Yogya, Surabaya, dan saya berharap produk Banyuwangi juga sama dengan kota-kota lain," ungkapnya.

Saat ditanya omzetnya perbulan, Annisa mengaku pernah mencapai Rp 60 juta rupiah per bulan. Dari hasil penjualan itu, dia menyisihkan sebagian untuk disumbangkan bagi anak-anak kurang mampu di Kampung Belajar Nagud Banyuwangi. (KOMPAS.com)

Previous
Next Post »