Rabu, 21 Januari 2015

Kisah Sukses Anak Autis Paling Fenomenal

kotabontang.net - Sejak autisme pertama kali didiagnosis pada tahun 1943, jumlah anak penyandang autis di dunia semakin meningkat jumlahnya. Namun meski memiliki masalah dalam berkomunikasi dan bersosialisasi, nyatanya banyak anak-anak autis yang tumbuh menjadi orang sukses.

Berikut 7 kisah anak autis yang tumbuh besar menjadi orang sukses dan terkenal di dunia, seperti dirangkum kotabontang.net, Kamis (22/1/2015):

1. Daniel Tammet

Penulis, linguist, pendidik dan dinobatkan sebagai 1 dari 100 orang jenius yang masih hidup di dunia, Daniel Tammet dikenal sebagai 'Brainman'. Pria kelahiran 31 Januari 1979 ini mulai menarik perhatian pada tahun 2006 setelah menulis buku terlaris New York Times berjudul 'Born On A Blue Day'.

Buku tersebut menceritakan kehidupannya sebagai penyandang autistic savant. Lebih dari setengah juta eksemplar bukunya telah terjual di seluruh dunia, serta film dokumenter pemenang penghargaan diproduksi tentang dirinya berjudul 'Brainman'.


2. Temple Grandin

Belum genap usia 3 tahun, Temple Grandin didiagnosis dengan austisme, masalah perkembangan saraf kompleks yang membuatnya tidak mampu berhubungan sosial. Meski jatuh bangun menghadapi kondisinya, kini Temple justru berhasil menjadi seorang profesor di bidang ilmu hewan.

Anak autis ini mampu mengubah industri peternakan Amerika, menjadi juru bicara autisme dan mengajar mahasiswa PhD di Colorado State University. Dr Temple Grandin juga menulis sepuluh buku tentang hewan dan perilaku manusia. Kisah hidup Temple yang inspiratif bahkan pernah difilmkan oleh HBO dengan judul namanya sendiri, 'Temple Grandin'.


3. Matt Savage

Matt Savage dikenal sebagai musisi autistic savant Amerika. Matt Savage didiagnosis dengan PDD (Pervasive Development Disorder Unspecified) pada usia 3 tahun dan kemudian tumbuh menjadi seorang musisi jazz. Di usianya yang masih muda, pria kelahiran 1992 sudah dikenal sebagai seorang pianis jazz profesional dengan trionya sendiri.

Dia telah bermain dengan musisi dewasa terbaik di masanya dan telah bermain musik ke seluruh dunia. Dia juga telah merekam tiga CD audio, yang hasilnya disumbangkan untuk penelitian dan dukungan autisme. Bahkan Dave Brubeck yang dikenal sebagai 'legenda jazz', menyebut Savage sebagai 'Mozart of jazz'.

4. Satoshi Tajiri

Satoshi Tajiri dikenal sebagai desainer video game Jepang yang menciptakan Pokemon. Pria kelahiran 28 Agustus 1965 juga menciptakan salah satu waralaba video game yang paling populer di dunia, Game Freak, Inc, yang menciptakan game secara eksklusif untuk Nintendo.

Meski didiagnosis dengan sindrom Asperger, Satoshi Tajiri telah tumbuh menjadi pengusaha Nintendo yang sangat kreatif tapi tertutup dan eksentrik.





5. Tim Page

Meski dengan diagnosis autisme, penyandang autis masih bisa melakukan banyak hal. Seperti halnya Tim Page, seorang kritikus terkenal dan penulis yang memenangkan Pulitzer Prize sebagai kritikus musik untuk Washington Post. Ia juga dipilih Opera News sebagai 25 orang paling berpengaruh di dunia opera.

Page telah menghasilkan konser di seluruh dunia dan sejak itu dinobatkan sebagai seorang profesor jurnalisme dan musik di University of Southern California. Pada tahun 2009, Page menerbitkan sebuah buku berjudul 'Parallel Play', memoarnya tentang tumbuh dengan sindrom Asperger.


6. Donna Williams

Donna Williams, penulis buku 'Nobody Nowhere', merupakan penyandang autis lain yang telah membuka pikiran publik tentang arti menjadi seorang penyandang autisme. Buku tersebut merupakan otobiografinya yang menjadi bestseller internasional.

Wanita Australia kelahiran Oktober 1963 ini adalah seorang seniman yang menyebut dirinya sebagai seorang 'pelajar kinestetik', yang mengajarkan bagaimana mengekspresikan diri melalui patung, lukisan, menulis lagu, skenario dan buku.


7. Dawn Prince-Hughes

Penyandang autis lain yang juga mengesankan adalah seorang wanita bernama Dawn Prince-Hughes. Terlahir dengan high-functioning autistic, Hughes telah tumbuh sukses dan menerima gelar PhD di bidang antropologi primata dan menjadi ahli primata dan etnolog.

Karena autisme, dia menulis tentang bagaimana bekerja dengan gorila yang membantunya melarikan diri dari perasaan isolasi sosial. Dia dikenal sebagai penulis serangkaian buku, dua di antaranya adalah 'Songs for the Gorilla Nation' dan 'My Journey Through Autism'. Dawn juga duduk sebagai ketua eksekutif ApeNet Inc, dan telah menjabat sebagai direktur eksekutif Institute for Cognitive Archaeological Research dan berhubungan dengan Jane Goodall Institute.

Previous
Next Post »