Senin, 05 Januari 2015

Kisah Perjalanan Darat Bontang - Derawan - Tarakan Agus Susanto Bontang

kotabontang.net - Kisah Perjalanan Darat Bontang - Derawan - Tarakan Agus Susanto Bontang.
Tak Ada Lagi Kubangan Lumpur, 10 Jam Melintasi Poros Bontang-Berau. Merasakan jalan darat ke Berau demi mengunjungi Pulau Derawan? Siapa takut! Ya, kini jalurnya tak semengerikan dulu. Bagi bikers maupun pengendara mobil yang suka hangout menikmati perjalanan jarak jauh, melintasi utara Kaltim dengan rute Kutim-Berau-Bulungan lalu menyeberang ke Tarakan, adalah pilihan menarik membunuh waktu liburan. Berikut pengalaman Agus Susanto, general manager Bontang Post, dengan gaya bertutur.

***

Ini pertama kalinya saya melakukan perjalanan darat menuju Berau. Alasan memilih jalur darat, karena sebelumnya sudah banyak referensi termasuk dari General Manager Berau Post Endro S Effendi, bahwa jalur darat Bontang-Berau sepanjang kurang lebih 420 km, jalannya sudah bagus.

Alasan lain, sebagai pemimpin Bontang Post (Kaltim Post Group), saya sangat ingin tahu perkembangan pembangunan daerah-daerah di wilayah utara. Seperti Berau, Bulungan, dan Tarakan. Terlebih, sejak setahun terakhir, Bulungan dan Tarakan telah memisahkan diri dari Kaltim dan menjadi bagian Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).

Agar lebih menikmati perjalanan, saya menyopiri sendiri kendaraan membawa istri dan anak-anak. Kebetulan anak-anak memasuki masa liburan sekolah. Tiga putra-putri saya ini masing-masing, berusia 10 tahun kelas V SD (perempuan), usia 8 tahun kelas III SD (laki-laki), dan usia 3,5 tahun (laki-laki).

Saya memang penasaran untuk menempuh jalur darat ini, karena beberapa tahun lalu kerap menulis beratnya medan jalan Kutai Timur (Kutim)-Berau. Saat itu, banyak orang menyebutkan, menembus Samarinda-Berau bisa memakan waktu 24 jam.

Bahkan, banyak menemui tantangan sepanjang jalan, seperti jalan rusak, berlubang, dan berlumpur saat hujan. Kendaraan pun harus siap-siap terjebak kubangan dan menginap di jalan. Bayang-bayang inilah yang masih terlintas di benak saya sebelum berangkat dari Kota Taman.

Perjalanan saya mulai pagi pukul 08.00 Wita, Selasa, 22 Desember 2014. Saya mengambil waktu pagi, harapannya bisa menikmati pemandangan sepanjang jalan dan tidak terlalu malam saat tiba di Berau.

Saya merasa ini adalah perjalanan ala backpacker. Di dunia wisata, istilah ini umum diberikan pada wisatawan yang bepergian sendiri dengan persiapan hanya sebuah tas punggung. Sama halnya yang saya lakukan, hanya membawa bekal cukup, meski tak hafal jalan saya tetap pergi. Saya santai saja, meskipun perjalanan ini saya jadwalkan dilakukan selama seminggu bersama keluarga.

Perjalanan dimulai dengan melintasi jalan poros Bontang-Sangatta (Kutim). Saya sempatkan berhenti sejenak ke bengkel untuk memompa ban dan memastikan keempat ban Toyota Rush yang saya gunakan dalam kondisi baik.

Selama menempuh perjalanan kurang lebih 60 km jalan poros Bontang-Sangatta, jalannya aspal mulus. Kalau pun ada kerusakan, hanya beberapa bagian.

Perjalanan saya lanjutkan dari Sangatta menuju pertigaan Kecamatan Muara Wahau dan Bengalon yang jaraknya sekitar 30-an km dari Sangatta. Melintasi jalur ini, cukup nyaman. Sepanjang jalan sudah beraspal. Padahal beberapa tahun lalu, berdasarkan informasi, jalannya rusak parah.

Meski saat ini sudah jauh lebih baik, tetap ada tiga titik rawan longsor. Melewatinya harus berhati-hati. Kendaraan yang berlawanan arah harus bergantian melintasinya.

Di simpang Muara Wahau-Bengalon, ada jalan baru yang dibangun PT Kaltim Prima Coal sebagai kompensasi jalan lama yang digunakan untuk aktivitas tambang. Jalur baru ini jalannya lebar dan mulus. Panjang jalannya sekitar 10 km. Semua kendaraan yang menuju arah Muara Wahau dialihkan ke jalan ini.

Melalui jalur ini, mulai jarang terlihat rumah penduduk. Jalannya naik-turun menyusuri perbukitan. Kanan-kiri jalan, banyak semak belukar. Sepanjang rute ini, juga tidak banyak berpapasan kendaraan lain. Kendaraan yang melintas lebih banyak truk-truk besar. Termasuk truk pengangkut sawit.

Yang melegakan, tidak banyak ruas yang rusak. Sudah mulai banyak pengecoran dan jamak terlihat aktivitas pekerja sedang memperbaiki jalan.

Sebagian besar jalannya pun berupa agregat. Tidak ada lagi jalan-jalan rusak berlumpur. Hanya ada satu titik yang kondisi jalannya masih rusak parah. Itu pun hanya sekitar 20 meter.

Siang pukul 12.30 Wita atau 120 km dari Sangatta, tiba di Kecamatan Muara Wahau. Di sini mulai ada beberapa rumah dan kedai. Cuaca saat itu cukup cerah. Kami mencari masjid untuk salat Zuhur. Karena perut belum terasa lapar akibat terisi makanan ringan selama perjalanan, kami melanjutkan perjalanan meninggalkan Muara Wahau.

Melihat tanda-tandanya, jelas perjalanan masih panjang atau baru separuh perjalanan.

Di Muara Wahau, suasana kotanya lumayan ramai. Banyak rumah dan kedai. Berbatasan dengan Kecamatan Muara Wahau adalah Kecamatan Kongbeng. Di pinggir jalan ini, kami melintasi pasar tradisional. Sehingga terlihat lebih ramai dan lebih hidup.

Cuaca mulai panas, hingga tiba di perbatasan antara Kabupaten Kutim dengan Kabupaten Berau, kira-kira 290 km dari Bontang. Meski sudah masuk wilayah Berau, tapi ini baru batasnya. Untuk tiba di ibu kota Tanjung Redeb masih harus bersabar. Karena mesti menempuh perjalanan 130 km lagi.

Pemandangan sepanjang perjalanan kembali didominasi semak belukar sisa bekas kebakaran hutan. Pohon-pohon kering, hangus, dan mati, menjulang di antara tanaman semak dan bekas ladang yang sepertinya sengaja ditinggalkan.

Jalanan pun tidak lagi beraspal tapi agregat. Jalannya naik-turun, tanda sudah di wilayah perbukitan. Di sepanjang jalan inilah, menurut warga sekitar, beberapa tahun lalu banyak kendaraan terjebak lumpur. Dan kami bersyukur, meski sedikit licin di bagian tertentu saat hujan, kami tak menemui kendala saat melintasinya. Sepanjang kurang lebih 30 km setelahnya, kami lantas melintasi jalan agregat. Setelah itu, barulah kembali menemui jalan aspal.

Di sekitar kilometer 355, kondisi jalan yang semula aspal, mulai agregat lagi. Tapi beberapa kilometer kemudian, kembali dilapis aspal. Sepanjang perjalanan dari kilometer 355 sampai ke simpang Labanan Berau atau kilometer 400 dari Bontang, sudah banyak perbaikan.

Memang ada beberapa bagian jalan yang masih agregat, tapi tidak ada yang rusak parah dan sulit dilintasi. Pukul 17.15, akhirnya tiba di perempatan jalan yang diaspal mulus.

Perjalanan tinggal 20 km lagi tiba di ibu kota Tanjung Redeb. Kami berhenti sejenak, sambil menghubungi rekan dari Berau Post, ke mana saja jalur yang harus saya lalui.

Istri dan anak-anak juga baru terjaga dari tidurnya. Hampir sepanjang perjalanan, anak-anak tertidur pulas. Hanya istri yang sesekali terbangun. Untungnya selama perjalanan tidak ada kendala dengan kendaraan, sehingga waktu tempuh lebih cepat.

Akhirnya, saya tiba di Berau pukul 18.00 Wita atau 10 jam perjalanan dari Bontang. Ini untuk kali ketiga saya berkunjung ke Berau. Sudah terlihat banyak sekali perubahannya, dibanding pada 2007 saat saya ke sana. Hotel-hotel baru bermunculan. Salah satunya tempat saya menginap di hotel bintang empat Cantika Swara Resort and Convention.

Untuk menuju Pulau Derawan, masih harus menempuh jarak kurang lebih 100 km dari Tanjung Redeb atau 2 jam perjalanan menuju Pelabuhan Tanjung Batu. Setelah itu, masih harus naik speedboat kurang lebih setengah jam untuk tiba di Pulau Derawan. Karena itulah, saya memilih istirahat dulu sehari di Hotel Cantika, sambil menyiapkan tenaga untuk perjalanan keesokan harinya. Karena selain ke Pulau Derawan, saya sudah menjadwalkan perjalanan ke Kota Tarakan atau yang dikenal dengan Little Singapore.
Jika pernah ke Singapura, Anda akan menemukan lokasi bernama “Little India”, karena kawasannya mayoritas dihuni pendatang dari India. Nah, di Tarakan, juga ada “Little Singapore”. Bukan karena banyak orang Singapura di sana. Itu hanya slogan sekaligus cita-cita Pemkot Tarakan yang ingin mengembangkan kotanya seperti Singapura. Inilah bagian terakhir perjalanan saya bersama keluarga.

AGUS SUSANTO, Bontang

SEBELUMNYA, saya tidak punya rencana melanjutkan perjalanan menuju Tarakan. Karena tujuan utama adalah berlibur ke Pulau Derawan. Namun lewat grup BlackBerry Messenger (BBM), secara khusus Direktur Radar Tarakan Anny Susilowati mengundang saya singgah ke sana.

Saat ini, ada dua jalur menuju Bumi Paguntaka; jalur udara atau menyeberang dengan speedboat dari Bulungan dengan waktu tempuh 1,5 jam. Pemprov Kalimantan Utara (Kaltara) berencana membangun Jembatan Bulungan-Tarakan (Bulan) sepanjang 6 km. Nah, menuju Bulungan, jarak tempuhnya 215 km dari Pelabuhan Tanjung Batu, Berau.

Kami meninggalkan Pulau Derawan menggunakan speedboat menuju Pelabuhan Tanjung Batu, 26 Desember 2014 pukul 07.30 Wita. Tiba di pelabuhan, saya langsung mengambil kendaraan dan memacunya ke arah Tanjung Selor, ibu kota Bulungan sekaligus ibu kota Kaltara. Setelah melepas lelah sekitar satu jam di Tanjung Redeb, kami masih harus menempuh 100 km lagi.

Jalan menuju Tanjung Selor relatif bagus. Aspalnya mulus. Dibandingkan jalan poros Bontang-Samarinda, perjalanan Berau-Bulungan masih lebih nyaman. Lalu lintas kendaraan juga tidak padat. Kami tiba di Bulungan pukul 15.00 Wita.

Begitu memasuki gerbang ibu kota provinsi paling belia di Indonesia ini, pemandangannya cukup teduh. Lahan-lahan kosong juga masih banyak. Sepanjang jalan poros menuju arah pelabuhan, kami melewati gedung-gedung perkantoran. Saya juga sempatkan mampir ke Kantor Biro Radar Tarakan-Kaltara Pos di Bulungan. Ditemani Mansyur, wartawan Radar Tarakan, saya diantar sampai ke Pelabuhan Tanjung Selor.

Di loket, sudah terpampang jadwal speedboat untuk rute Tanjung Selor-Tarakan, dengan rentang keberangkatan tiap 45 menit. Saya memilih jadwal pukul 15.45 Wita menggunakan speedboat Andalas. Saya perlu waktu agak longgar, karena harus memilah pakaian yang mesti dibawa ke Tarakan. Kendaraan saya parkir di lahan pelabuhan. “Kendaraan ini rata-rata parkir bermalam. Bisa satu malam, bahkan lebih. Banyak yang menyeberang ke Tarakan. Selama ini, parkir di sini aman saja,” kata Mansyur.

Speedboat yang kami tumpangi bisa memuat 35 orang. Tarifnya Rp 130 ribu per orang. Untuk anak-anak usia 2-3 tahun tidak dikenakan biaya. Saat itu, jumlah penumpang tidak begitu padat. Sehingga, istri dan anak-anak saya leluasa mendapatkan tempat duduk. Perjalanan menggunakan speedboat ini melintasi sungai dan laut. Jarak tempuhnya 1,5 jam.

Setiba di Pelabuhan Tengkayu, Tarakan, pukul 17.15 Wita, saya agak terkejut karena ternyata Direktur Radar Tarakan Anny Susilowati dan suaminya sudah menjemput menggunakan dua mobil. Ikut juga Wakil Direktur Radar Tarakan Gunawan. Inilah untuk ketiga kalinya saya berkunjung ke Tarakan. Beberapa tahun lalu, saya pernah datang ke kota ini saat aktif menjadi wartawan Kaltim Post mengikuti kunjungan rombongan anggota DPRD Kaltim. Kala itu, Wali Kota Tarakan Jusuf SK masih menjabat. Saya lihat perkembangan Tarakan sangat pesat. Banyak bangunan-bangunan baru berdiri. Kotanya bersih. Kendaraan juga cukup padat.

Berkunjung ke Tarakan, sayang bila melewatkan menu seafood. Banyak restoran menawarkan kuliner dengan beragam masakan khas Tarakan. “Pokoknya untuk kuliner jangan khawatir, semua sudah saya jadwalkan,” kata Anny yang langsung mengajak kami singgah di Rumah Makan Elizabeth.

Saya lihat tidak ada menu istimewa di sini. Makanan yang kami pilih juga banyak yang sudah habis. Kami hanya makan ayam penyet dan es krim. Selanjutnya, kami diantar istirahat di Swiss-Belhotel Tarakan. Di hotel ini, rencananya kami menginap dua malam. Malam hari, kami dijamu di Royal Crown Restaurant.

Keesokan harinya, saya dapat kesempatan bertemu tim Redaksi Radar Tarakan dan Kaltara Pos. Banyak hal yang saya dapatkan dari hasil sharing bersama tim redaksi Radar Tarakan dan Kaltara Pos. Semua muaranya perbaikan produk koran. Sebagai pemimpin Bontang Post, saya juga perlu banyak belajar untuk kemajuan koran. Seperti yang sudah dilakukan Radar Tarakan selama 13 tahun.

Kesempatan berada di Tarakan, saya gunakan mengunjungi tempat wisata di sana. Pertama kami datangi, Kawasan Wisata Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) yang luasnya mencapai 9 hektare. Ditemani Lukman dan Firman, manager Pemasaran dan Keuangan Radar Tarakan, kami berkeliling KKMB. Inilah hutan bakau di tengah kota. Unik memang. Suasananya yang “hutan” kontras dengan suasana luar yang sudah “kota”. Kawasan ini menjadi perlindungan bagi spesies yang sangat unik. Di antaranya, bekantan atau dikenal monyet Belanda. Walau jumlahnya banyak, agak susah menemukan bekantan di sini. Monyet ini pemalu. Jadi, mata kita harus jeli melihat ke atas pohon yang jauh dari jalan setapak untuk melihat Bekantan ini. Kami beruntung bisa mendapati dan mengabadikan.

Selain bekantan, berdasarkan brosur yang saya dapatkan, beberapa satwa lainnya yang dapat ditemui di KKMB, seperti burung kipasan belang, burung cici merah, dan lebah madu.

Tempat wisata lain yang sempat kami kunjungan adalah Pantai Amal. Jangan dibayangkan ini tempat sosial. Sebenarnya Pantai Amal sendiri merupakan nama salah satu kelurahan di Kecamatan Tarakan Timur. Walau tidak berpasir putih, Pantai Amal tetap menjadi pilihan wisata yang ramai dikunjungi warga.

“Belum ada pilihan lain. Ya, memang masih lebih bagus Pantai Manggar di Balikpapan. Tapi di sinilah rencananya pemkot membangun sejumlah fasilitas wisata,” kata Lukman.

Ahad, 28 Desember 2014, sebelum meninggalkan Tarakan, pagi hari saya sempatkan menjajal lapangan golf Tarakan bersama Gunawan. Lokasinya di tengah kota, bersebelahan dengan Stadion Datu Adil Tarakan. Lapangannya tidak luas. Hanya bisa bermain 9 hole.

Ketika bermain golf inilah, saya terkejut ketika mantan Wali Kota Tarakan Udin Hianggio mendatangi kami saat berada di green hole 4. Kebetulan rumahnya berseberangan dengan hole 4. Bercelana pendek dan menggunakan kaus dalam, Pak Udin ikut mencoba pukulan putter dari jarak kurang lebih tiga meter. Bola pun langsung masuk. “Wah, ternyata Pak Udin masih hebat,” celetuk Gunawan.

Namanya orang politik, Pak Udin pun langsung memancing obrolan politik. Ia berbicara perebutan gubernur Kaltara. Udin menyebut ada beberapa nama yang saat ini muncul, seperti Pj Gubernur Irianto Lambrie dan mantan Wali Kota Jusuf SK. “Kalau saya jagokan Pak Irianto,” ucap Udin. Hanya 15 menit berbincang, kami pun kembali melanjutkan permainan sampai 9 hole. Setelah bermain golf ini, siang harinya, saya berkemas untuk kembali ke Bontang, via darat. 
-kaltimpost.co.id-

Previous
Next Post »