Senin, 26 Januari 2015

Bocah Cantik Ini Retas Wi-Fi dalam Hitungan Menit

kotabontang.net - Peretasan dengan modus membobol data melalui akses Wi-Fi benar-benar makin mengkhawatirkan. Sebagai bukti, seorang bocah tujuh tahun mampu meretas Wi-Fi hanya dalam waktu hampir 11 menit.

Dilansir Daily Mail, Kamis 22 Januari 2015, sebuah perusahaan penyedia virtual private network (VPN), Hidemyass.com (HMA) mencoba membuktikan mudahnya peretasan yang dlakukan dengan mencegat akses Wi-Fi.

Perusahaan itu ingin menggambarkan betapa bahayanya peretasan melalui akses Wi-Fi. Maka HMA menantang bocah cantik Besty Davies dari London Selatan untuk meretas laptop peserta yang terhubung dengan jaringan Wi-Fi publik.

Davies yang dilaporkan tak mengetahui soal teknik peretasan itu menerima tantangan. Ia kemudian mencari referensi peretasan dengan browsing di mesin pencarian dan menonton video tutorial di internet.

Setelah mendapatkan referensi, bocah itu mengatur Rogue Access Point, yang sering digunakan peretas untuk mencegat data di tengah trafik atau dikenal dengan istilah 'man in the middle'.

Rogue merupakan titik akses nirkabel, yang sering diinstal pada jaringan perusahaan tanpa sepengetahuan perusahaan.

Dengan mengatur akses poin ini, seorang peretas bisa menjalankan serangan 'man in the middle', yaitu peretas yang mencegat jaringan di antara dua akses poin.

Nah, bocah cantik itu dengan cepat bisa memerankan menjadi 'man in the middle'. Ia berada di antara jaringan Wi-Fi dan laptop pengguna. Hasilnya, bocah itu sukses meretas dengan teknik tersebut dalam waktu singkat, 10 menit 54 detik.

Perusahaan mengaku sudah menduga mudahnya peretasan dengan modus tersebut.

"Saya tahu betapa mudahnya orang awam memperoleh akses ke perangkat asing, dan peretasan kini benar-benar menjadi permainan anak-anak," ujar Marcus Dempsey, pakar keamanan online independen yang mengawasi percobaan tersebut.

Hasil percobaan itu menjadi peringatan sejauh mana potensi bahaya peretasan melalui Wi-Fi.

Terlebih, fakta yang dimiliki Kantor Kabinet Inggris menyebutkan lebih dari setengah orang di Inggris telah menjadi korban kriminal di dunia maya.

Sementara itu, penelitian HMA menemukan hampir dua per tiga (59 persen) orang biasa menggunakan akses Wi-Fi yang tidak aman. Sedangkan satu dari lima orang (20 persen) dari angka tersebut mengakses Wi-Fi tak aman selama berminggu-minggu.
[viva]

Previous
Next Post »