Rabu, 14 Januari 2015

Benarkah Komjen Budi Gunawan Titipan Megawati?

kotabontang.net - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan calon tunggal Kapolri, Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan sebagai tersangka dugaan gratifikasi, saat menjabat Kepala Biro Pembinaan Karir Deputi SSDM Mabes Polri tahun 2004-2006 dan jabatan-jabatan lainnya di Polri.

Penetapan jenderal berbintang tiga ini menjadi tersangka cukup mengejutkan, karena ia sebentar lagi akan menjadi orang nomor satu di tubuh Kepolisian.

Sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, banyak kalangan merasa aneh dengan keputusan Presiden Joko Widodo yang tidak melibatkan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan KPK dalam proses pemilihan calon kapolri.

Memang seorang Presiden memiliki hak khusus untuk mengajukan calon Kapolri tanpa harus melibatkan PPATK maupun KPK.

Namun, seyogya Jokowi menyadari bahwa saat dia mengajukan nama Budi Gunawan sebagai calon tunggal, PPATK dan KPK memiliki data dugaan rekening gendut sang jenderal.

Karena keputusan Jokowi itu, muncullah kabar angin yang menyebutkan bahwa pemilihan Budi Gunawan sebagai calon tunggal kapolri adalah atas keinginan Ketua Umum Partai Demokrasi (PDI) Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Isu itu muncul, karena dalam riwayat karirnya, Budi Gunawan pernah memiliki kedekatan dengan Megawati. Terutama, saat pada tahun 2001 hingga 2004, ia dipercaya menjadi ajudan kala Megawati menjadi Presiden RI.

Lalu benarkah isu itu?

Usai ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, Budi sempat memberikan keterangan pers di rumahnya.

Saat ditanya wartawan tentang isu ia adalah titipan Mgeawati. Budi, kemudian menjawab dengan singkat bahwa semua proses sampai namanya diterima Presiden Joko Widodo adalah dari Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Maka, kata Budi, tidak mungkin dalam proses itu ada intervensi, atau pesanan orang per orang. "Proses (pencalonan) itu kan dari Kompolnas," kata Budi dalam keterangan pers di rumahnya di Jakarta pada Selasa petang, 13 Januari 2015.

Sementara itu, pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar menyebutkan, apa yang terjadi kali ini merupakan pelajaran bagi Jokowi selaku Presiden, agar lebih selektif dalam memilih calon Kapolri dengan melibatkan PPATK dan KPK.

"Inilah akibat main terobos saja, masih banyak calon yang lain kok. Hal ini, buat pak Jokowi merupakan suatu introspeksi bagaimana memilih pimpinan Polri," kata Bambang.

Sebelum Budi Gunawan ditetapkan sebagai tersangka, Presiden Jokowi mengaku bahwa nama Budi Gunawan itu didapatkannya atas usulan dari Kompolnas.

"Itu kan dari kompolnas memberikan usulan pada saya, dari sana kita pilih," kata Jokowi di zona industri PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, Senin 12 Januari 2014.

Untuk itu, kata Jokowi, dia meminta masyarakat untuk menunggu prosesnya di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Namun, Jokowi tidak mau menjelaskan apa alasan dia tak melibatkan KPK dan PPATK. Padahal, seperti diketahui, seluruh menteri yang dipilihnya semuanya melalui seleksi oleh KPK dan PPATK.
-viva-

Previous
Next Post »