Jumat, 23 Januari 2015

10 Hal Mengapa Bisnis Kecil Rentan Akan Kegagalan

kotabontang.net - Apa yang menyebabkan bisnis kecil mengalami kegagalan? Pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Sebagai manager konsultan bisnis di Business Education Services & Training Unit, Lagos Chamber of Commerce & Industry, Akin Aluko, sering berjumpa dengan pelaku bisnis kecil secara formal dan informal, seperti yang dikutip dari laman Business Day.

Menurut Aluko, sebagian besar dari mereka mengambil langkah yang keliru ketika menemui sejumlah masalah dalam perjalanan bisnisnya. Dan hanya sebagian kecil kasus di mana pemilik bisnis mengetahui kesalahannya dan berusaha untuk memperbaikinya.

Aluko menjabarkan 10 hal mengapa banyak bisnis kecil yang mengalami kegagalan ketika merintis bisnis serta tak mampu bertahan ketika bisnis telah berjalan.

Kompetisi ketat
Baik itu barang atau jasa, sangatlah penting untuk menjual produk dengan harga yang akan memberi keuntungan bagi bisnis. Sebagai bisnis kecil atau bisnis rintisan, bersaing dengan produk yang telah lama menguasai pasar bisa menggiring mereka pada sebuah masalah serius. Ini artinya, pelaku bisnis harus benar-benar berupaya keras dalam bidang uji kelayakan produk sehingga bisa lolos dari persaingan yang ketat tersebut.

Entrepreneur yang keras kepala
Beberapa entrepreneur bisa menjadi keras kepala atau mungkin terlalu penakut untuk mengambil sejumlah risiko dengan serius. Hal itu dikarenakan oleh sifat entrepreneur itu sendiri yang entah memang perfeksionis atau serakah atau merasa diri yang paling benar atau paranoid atau mudah terbawa emosi atau malah selalu merasa dirinya tak aman. Jadi, ketika telah diberi tahu di mana letak kesalahan yang kerap ia buat dan sepertinya dia mengerti dengan baik hal itu namun tetap saja pada kenyataannya si entrepreneur melakukan kesalahan yang sama berulang kali.

Pertumbuhan di luar kendali
Ini merupakan faktor kegagalan yang paling menyedihkan. Kegagalan karena pertumbuhan di luar kendali bisa saja menimpa bisnis yang dinilai telah sukses namun dikelola namun hancur karena ekspansi yang berlebihan. Antara lain karena memilih pasar yang tak memberi profit, menjalani strategi besar yang berakibat pada kehancuran bisnis atau mengajukan kredit dengan jumlah tinggi demi pencapaian pertumbuhan dalam level tertentu. Dalam kasus ini, pepatah yang mengatakan “small is beautiful” tepat adanya.

Pembukuan yang lemah
Pelaku bisnis takkan bisa menjadi pebisnis yang terkendali bila ia tak mengetahui apa yang terjadi pada sistem keuangan bisnisnya. Hanya karena banyak yang membeli produknya, pelaku bisnis merasa telah meraih untung besar. Dengan angka yang semakin bertambah dalam pembukuan, sudah selayaknya pelaku bisnis mengerti arus keuangan bisnisnya. Bila belum memiliki budget untuk pekerjakan orang mengerjakan sistem pembukuan bisnis, si pelaku bisnis itu sendirilah yang harus mengerjakannya.

Tak mempunyai dana cadangan
Finansial bisnis kecil sewaktu-waktu dapat berubah menjadi suatu hal yang menakutkan. Misalnya karena berkurangnya konsumen potensial, munculnya pemain atau produk baru dan juga permasalahan hukum. Yang paling buruk adalah ketika terjadi resesi. Dengan sejumlah permasalahan itu, pantasnyalah bila kondisi keuangan bisnis kecil bisa berubah menjadi hal yang mampu membuat pelaku bisnis stres. Tapi hal itu takkan terjadi bila pelaku bisnis telah memiliki dana cadangan atau mungkin pinjaman dari lembaga keuangan yang bisa dipakai untuk menyelamatkan bisnis dari jurang kebangkrutan. Pelajaran yang bisa dipetik adalah belajar menyisihkan dana untuk hari-hari sulit yang bisa secara mendadak tiba.

Operasional yang terkesan biasa
Tak ada pelaku bisnis yang akan mendeskripsikan bisnisnya sebagai suatu hal yang biasa-biasa saja. Meski demikian, di tengah teknologi canggih dan modern, banyak entrepreneur yang mengelola bisnisnya dengan cara yang biasa-biasa saja.

Ketidakefisiensian operasional
Pelaku bisnis harus pandai melakoni bisnis dengan modal yang ada serta mengelolanya sedemikian rupa hingga menghasilkan income dan laba. Biaya-biaya besar seperti sewa gedung, gaji karyawan dan bahan baku bukanlah sebuah keuntungan dalam bisnis. Kini, bisnis yang ramping dalam anggaran yang memiliki kesempatan lebih unggul.

Disfungsional manajemen
Manajemen yang disfungsional seperti kurang fokus, lemah dalam visi, planning, standar dan hal lainnya merupakan manajemen yang harus dihindari dalam setiap kelangsungan bisnis karena bisa mengakibatkan musibah.

Perencanaan bisnis yang lemah
Salah satu faktor kelemahan bisnis keluarga yang tak bisa meneruskan bisnis kepada generasi selanjutnya adalah banyak yang bekerja seakan mereka akan hidup selamanya atau mereka merasa telah memiliki segalanya. Sangat penting untuk memikirkan generasi penerus yang mampu menggantikan posisi pemiliki bisnis.

Penurunan pasar
Para pelaku bisnis yang usahanya berhubungan erat dengan perubahan teknologi, permintaan konsumen serta persaingan dengan perusahaan besar, diminta untuk senantiasa waspada dan pandai menyiasati hal-hal tersebut karena bisa menyebabkan terjadinya penurunan dalam pasar yang sedang mereka bidik.

Previous
Next Post »