Minggu, 30 November 2014

Sunnah Rasul Berhubungan Malam Jumat = Membunuh 100 Yahudi?

kotabontang.net - Berhubungan Malam Jumat = Membunuh 100 Yahudi? Sunnah Rasul dalam pandangan syariat adalah sikap, tindakan, ucapan dan cara RasulullahShallalhu alayhi wa Sallammenjalani hidupnya atau suatu aktifitas dilakukan oleh RasulullahShallalhu alayhi wa Sallamdengan penjagaan Allah Ta’ala.

Namun dalam pergaulan sehari-hari, sering kita dengar istilah“Sunnah Rasul”pada malam Jumat. “Sunnah Rasul” populer di malam Jumat adalah hubungan suami istri atau ML.

Apakah yang melatar belakangi penyebutan Sunnah Rasul menjadi sebuah aktifitas seks? Benarkah malam Jumat sebagai malam yang dianjurkan untuk berhubungan seksual? Berikut ini beberapa jawabannya:

PERTAMA

Ada perkataan yang dianggap hadits: “Barangsiapa melakukan hubungan suami istri di malam Jumat (kamis malam) maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi.” [Dalam ‘hadits’ yang lain disebutkan sama dengan membunuh 1000 atau 7000 yahudi.]

Hadits di atas tidak akan Anda temukan dalam Kitab manapun. Baik kumpulan hadits dhaif apalagi shahih. Artinya, hadits “Sunnah Rasul” pada malam Jumat tersebut, apalagi sama dengan membunuh 100 Yahudi, adalah bukan Hadits alias palsu yang dikarang oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
So,STOPmengatakan“Sunnah Rasul”sebagai pengganti dari istilah berhubungan suami istri atau ML.

KEDUA

Ada haditsnya shahih namun tidak mengatakan secara gamblang bahwa itu adalah hubungan seks suami istri yaitu:

Dari Abu Hurairah ra, dari RasulullahShallalhu ‘Alayhi Wa Sallambersabda:

“Barangsiapa mandi di hari Jumat SEPERTI MANDI JANABAH, kemudian datang di waktu yang pertama (mendatangi masjid untuk shalat Jumat), ia seperti berkurban seekor unta. Barangsiapa yang datang di waktu yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang datang di waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas. Barangsiapa yang datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).”
(HR. Bukhari no. 881 Muslim no. 850)

Hadits tersebut menunjukkan keutamaan shalat Jumat, namun di situ disebutkan juga tentangmandi junub(ghuslal janabah) pada hari Jumat. Sedangkan mandi junub salah satunya dilakukan setelah ada aktifitas hubungan seksual. Mungkin, daripada melakukan mandi besar ‘tanpa alasan’, maka dibuatlah alasannya. :)

Jika kita menganggap pendapat ini adalah pendapat kuat, maka anjuran melakukan hubungan intim di hari Jumat seharusnya dilakukansebelum berangkat shalat Jumat di siang hari, bukan di malam Jumat, karena batas awal waktu mandi untuk shalat Jumat adalah setelah terbit fajar hari Jumat.

Lalu sebenarnya sunnah apa yang dilakukan RasulullahShallalhu ‘Alayhi Wa Sallamdi malam/hari Jumat?

Sunnah Rasul untuk dilakukan pada malam/hari Jumat, diantaranya:

1. Memperbanyak membaca Shalawat

Sabda NabiShallalhu ‘Alayhi Wa Sallam, “Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari Jumat karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pada hari Jumat, maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku”. (HR. Baihaqi)

2. Membaca Al Qur’an khususnya surat Al Kahfi.

Sabda NabiShallalhu ‘Alayhi Wa Sallam,: “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat akan diberikan cahaya baginya diantara dua Jumat”. (HR. Al Hakim)

Tentu saja lebih baik lagi jika dikaji dan ditadabburi ayat-ayatnya.

3. Memperbanyak do’a

Rasulullah Shallalhu Alayhi Wa Sallam bersabda, ““Hari Jumat itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah SWT dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar”. (HR. Abu Dawud)

4. Shalat Jumat

Rasulullah Shallalhu ‘alayhi wa Sallam bersabda, “Salat Jumat itu wajib atas tiap muslim dilaksanakan secara berjamaah terkecuali empat golongan yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit”. (HR.Abu Daud dan Al Hakim).

Previous
Next Post »