Rabu, 26 November 2014

Kebanyakan Kerja Lembur Bikin Otak Tumpul

Kebanyakan Kerja Lembur Bikin Otak Tumpul
kotabontang.net - Kebanyakan Kerja Lembur Bikin Otak Tumpul,Bagi Anda yang sering bekerja lembur sebaiknya segera menguranginya. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan, bekerja dalam durasi yang panjang atau kerja shift selama bertahun-tahun tidak hanya membuat tubuh kelelahan tetapi juga membuat otak jadi tumpul.

Menurut studi yang dilakukan di University of Toulouse, Prancis, mereka yang kerja shift selama lebih dari 10 tahun akan setara dengan tambahan 6,5 tahun penurunan pada memori dan kemampuan berpikir yang berhubungan dengan usia.

Penelitian ini, bagaimanapun, hanya menemukan hubungan antara kerja lembur dan gangguan dalam memori dan berpikir, yang kadang-kadang disebut kognisi. Hasil ini tidak membuktikan bahwa kerja shift adalah penyebab definitif perubahan tersebut.

"Studi kami menunjukkan bahwa kerja shift dikaitkan dengan gangguan kognisi, bahwa hubungan tersebut bersifat kuat dan sangat signifikan untuk jangka waktu melebihi 10 tahun. Dan akhirnya, dan mungkin yang paling penting, bahwa efek berlanjut setelah berhenti kerja shift," kata Jean-Claude Marquie, Direktur Riset di National Center for Scientific Research, University of Toulouse, Prancis seperti dilansir laman Health Day.

Pemulihan keterampilan berpikir membutuhkan waktu setidaknya lima tahun, berdasarkan temuan penelitian. Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa sering bekerja lembur dapat mempengaruhi kewaspadaan, berpikir dan memori. Sedikit studi yang telah melihat apakah ada dampak kronis kerja shift tersebut, menurut informasi latar belakang dalam laporan teranyar itu.

Untuk mendapatkan efek jangka panjang yang mungkin dari bekerja dengan waktu yang panjang, Marquie dan rekan-rekannya melacak kemampuan mental lebih dari 3.000 orang dari berbagai daerah di Prancis yang bekerja di berbagai sektor atau yang telah pensiun. Para peneliti lantas mengevaluasi para partisipan pada tahun 1996, 2001 dan 2006.

Para pria dan wanita tersebut berusia 32, 42, 52 dan 62 tahun ketika mereka melakukan set pertama untuk tes mengukur memori, kecepatan pemrosesan dan kemampuan berpikir secara keseluruhan. Sekitar setengah dari peserta penelitian telah melakukan kerja shift setidaknya 50 hari dalam setahun.

Lebih dari 1.000 orang karyawan dan pensiunan tersebut bekerja dengan pola waktu pergeseran berputar antara pagi, siang dan malam, menurut penelitian ini. Secara keseluruhan, pekerja shift memiliki memori, cara berpikir dan kecepatan pemrosesan dengan skor yang lebih rendah daripada mereka yang telah bekerja hanya jam standar, seperti temuan para peneliti.

Mereka yang bekerja secara shift umumnya memiliki memori keseluruhan dan skor kemampuan berpikir yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah melakukan kerja shift. Studi tersebut juga mengungkapkan, mereka yang telah melakukan kerja dengan waktu berputar shift selama 10 tahun atau lebih memiliki skor yang lebih rendah.

Perbedaannya memang tidak terlalu dramatis, tapi tergolong jelas, catat para peneliti. Misalnya, pada satu skala pengukuran berpikir, memori dan kecepatan otak yang disebut skor kinerja kognitif global, orang-orang yang tidak pernah melakukan kerja shift mencetak 56 poin dari kemungkinan 100. Sementara mereka yang bekerja shift dengan pola jam berputar selama lebih dari 10 tahun mencetak skor sekitar 52, menurut hasil penelitian.

Butuh setidaknya lima tahun bagi pekerja untuk memulihkan kemampuan mental, kecuali untuk kecepatan pemrosesan, para peneliti menemukan. Marquie tidak bisa menjelaskan dengan pasti mengapa kerja shift, terutama dengan waktu yang berputar, terkait dengan dampak pada kemampuan berpikir.

Namun, kata dia, hal itu mungkin dikaitkan dengan stres yang dihasilkan oleh gangguan jam internal tubuh atau ritme sirkadian. Perubahan dalam ritme sirkadian dapat meningkatkan kadar hormon stres kortisol. “Hal ini dapat memiliki efek buruk pada otak, terutama area otak yang penting untuk memori,” sebut Marquie.

Temuan yang dipublikasikan secara online pada 3 November 2014 lalu di jurnal Occupational and Environmental Medicine juga menyoroti pentingnya pemantauan kesehatan pekerja shift, terang Marquie, terutama mereka yang bekerja dengan pola pergeseran waktu yang sama selama lebih dari 10 tahun.

Christopher Colwell, Profesor Psikiatri dan Direktur Laboratorium untuk Obat Sirkadian dan Tidur di University of California, Los Angeles, David Geffen School of Medicine, Amerika Serikat mengulas temuan penelitian ini. "Ini bukan sebuah temuan baru, tetapi adalah sesuatu yang kita semua secara intuitif tahu," katanya.

"Tapi ini adalah sebuah temuan yang terdokumentasi dengan baik,” lanjut Colwell. Colwell sepakat bahwa peneliti tidak tahu mekanisme yang tepat tentang mengapa kerja shift memiliki efek seperti itu. Namun, ujar dia, dipercayai bahwa "ketika Anda rasa mudah terpengaruh irama di dalam tubuh Anda, irama sirkadian, sebagai akibatnya Anda memiliki defisit memori". Hal itu akan muncul dalam tes laboratorium, kata Colwell, seperti misalnya ketika Anda diminta untuk menekan tombol ketika cahaya datang.

Previous
Next Post »